in ,

Mempertahankan Budaya Berladang di Pedalaman

Oleh: Yusriadi

Sabtu (2/12/17), saya mengikuti seminar kecil yang diselenggarakan oleh Narmac Institute, pimpinan Albertus, MA. Seminar itu membahas tentang rencana penulisan identitas Dayak di Kalbar.

Dari diskusi panjang dan menarik itu, saya mendapatkan banyak hal berkaitan dengan identitas Dayak. Salah satu soalnya adalah berladang. Dari bacaan selama ini, plus pandangan-pandangan yang terungkap dalam berbagai kesempatan, berladang dianggap ciri budaya Dayak.

Pak Simon Takdir, sosiolog yang menulis tentang Austronesia dan Selako, yang menjadi narasumber dalam kesempatan itu, sempat menambahkan –sekaligus meluruskan, bahwa berladang itu budaya Austronesia. Pada orang Filipina dan Taiwan, budaya itu dijumpai. Dia yakin hal itu karena pernah ke sana.

Lepas dari soal itu –dan saya memakai informasi Pak Simon, budaya berladang merupakan sesuatu yang penting pada masyarakat di pedalaman Kalbar, dahulu dan yang akan datang. Dari berladang diketahui banyak hal.

Pak Simon Jalil, dosen dan mantan bupati Sintang, yang menjadi narasumber dalam seminar, menceritakan pengalaman masa kecilnya di daerah Sintang. Dahulu, sewaktu kecil dia melihat neneknya sekitar pukul 5 pagi, turun ke tanah dan melihat bintang tiga di langit. Bintang ini menjadi petunjuk memulai berladang: jika bintang yang pertama lebih terang, masa berladang yang baik adalah masa awal atau segera.

Baca Juga:  FKIP Untan-MABM Sekadau Kolaborasi Garap Urgensi Pemeliharaan Tradisi Lisan

Jika yang tengah yang lebih terang maka masa berladang dimulai agak lambat sedikit. Begitulah seterusnya. Inilah tanda baik atau tidak untuk memulai membuka lahan.

Kemampuan membaca tanda ini menunjukkan bahwa dari berladang orang pedalaman mewarisi ilmu falak. Jika tak berladang, ilmu itu agaknya takkan diwarisi. Mungkin hilang dari pengetahuan. Kosa kata itu juga akan hilang dari daftar kata masyarakat. Sungguh rugi dan disayangkan.

Cerita Pak Simon Jalil mengingatkan saya tentang beberapa kosa kata yang hilang. Saya menulis tentang hal ini dalam beberapa tulisan. Ketika kegiatan berladang ditinggalkan, kosa kata tentang tanaman yang tumbuh di hutan, aneka jenis rumput yang tumbuh di antara padi di ladang, jenis padi yang dikembangbiakkan, alat-alat pertanian, pantang larang dalam berladang, nama dan jenis hama, sistem kerja dalam berladang, budaya menyambut buah padi, budaya mengemping padi, budaya panen, budaya pasca panen, dan turunannya, pelan dan pasti dilupakan. Ratusan, bahkan mungkin puluhan ribu kosa kata turut hilang.

Baca Juga:  Undang Founder Komunitas Bisa Ekspor Julio Halim, Upaya Hipmi Kalbar Cetak Eksportir Handal

Oleh karena itu, berkaitan dengan identitas orang pedalaman dan kekayaan budaya serta kosa kata itu, saya kira pengambil kebijakan dapat mengambil sikap memihak atau mendukung budaya berladang. Sikap ini perlu ditempuh untuk menyelamatkan kekayaan budaya yang ada, dan mengekalkan kosakata.

Mereka dapat merancang kebijakan yang membuat warga bisa dan harus tetap berladang demi khazanah yang tak ternilai itu. Semoga. (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Gula Kelapa Teluk Nangka

Ponpes Mathla’ul Anwar Pontianak