Jika yang tengah yang lebih terang maka masa berladang dimulai agak lambat sedikit. Begitulah seterusnya. Inilah tanda baik atau tidak untuk memulai membuka lahan.
Kemampuan membaca tanda ini menunjukkan bahwa dari berladang orang pedalaman mewarisi ilmu falak. Jika tak berladang, ilmu itu agaknya takkan diwarisi. Mungkin hilang dari pengetahuan. Kosa kata itu juga akan hilang dari daftar kata masyarakat. Sungguh rugi dan disayangkan.
Cerita Pak Simon Jalil mengingatkan saya tentang beberapa kosa kata yang hilang. Saya menulis tentang hal ini dalam beberapa tulisan. Ketika kegiatan berladang ditinggalkan, kosa kata tentang tanaman yang tumbuh di hutan, aneka jenis rumput yang tumbuh di antara padi di ladang, jenis padi yang dikembangbiakkan, alat-alat pertanian, pantang larang dalam berladang, nama dan jenis hama, sistem kerja dalam berladang, budaya menyambut buah padi, budaya mengemping padi, budaya panen, budaya pasca panen, dan turunannya, pelan dan pasti dilupakan. Ratusan, bahkan mungkin puluhan ribu kosa kata turut hilang.
Oleh karena itu, berkaitan dengan identitas orang pedalaman dan kekayaan budaya serta kosa kata itu, saya kira pengambil kebijakan dapat mengambil sikap memihak atau mendukung budaya berladang. Sikap ini perlu ditempuh untuk menyelamatkan kekayaan budaya yang ada, dan mengekalkan kosakata.
