Di era digital ini, angle sejarah makin utuh. Tinggal klik, banyak referensi yang mampu digali. Sejarah tak lagi bisa dibingkai sesuai kemauan. Demikian wejangan berbalut intelektualitas anak proklamator, Meutia Hatta.

Kita terlanjur percaya, bahwa pahlawan itu adalah sosok putih, yang tak mungkin ada hitamnya. Kita mengimajinasikan sebuah utopia sejarah. Yang akhirnya tidak memanusiakan figur pahlawan. Pahlawan melulu dicitrakan sosok yang sempurna. Tak ada cela meski senila.

Pun Sultan Hamid 2. Meski sang Perancang Lambang Negara dan pemimpin diplomasi ulung di KMB, itu tak menghilangkan cap pengkhinat yg disemat penguasa melalui peradilan politik beberapa dasawarsa yang lalu.

Bagaimana akhir kisah sang perancang lambang negara?

Berkaca dari jejak Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, setidaknya bangsa kita juga pernah melupakan pahala para pendiri bangsa. Meski akhirnya, Presiden SBY berdamai dengan sejarah dan mengakui jejak kepahlawanan mereka. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara yang dituding pemberontak, di periode Presiden SBY diakui sebagai pahlawan nasional.

Nah, kalau kita tidak disiplin mengikuti sejarah dan memakai logika segelintir yang menolak Sultan Hamid menjadi pahlawan, karena ada sedikit celanya. Saya yakin, pahlawan nasional kita tidak akan bisa mencapai angka 200 ratusan hingga kini. Mungkin yang tersisa hanya sosok putih full teladan, Bung Hatta seorang.