Indonesia baru mulai ‘ngegass’ dengan peradaban wakafnya. Baru melek dan raksasa yang baru sadar bahwa kekuatannya gigastic. 2000 triliun dalam setahun. 188 triliun wakaf uang tambahannya dalam setiap tahun pula jika dihandle dengan terstruktur, massif dan sistematis. Menggiurkan sekali. Setara dan bahkan melebihi kemampuan APBN berjalan saat ini.
Demikian justru tanda-tanda syariat ekonomi dari wakaf di Indonesia menyeruak, di mana nyawa boleh putus tapi pahala mengalir terus telah masuk pada sendi utama negara, yakni kepala negara. “Bagi saye, kepala negara membunyikannya pun sudah patut disyukuri. Sebab peluang mengisi ilmu wakaf ke publik. Tentang alur wakaf uang sejauh ini terbuka untuk dikritisi sesuai syar’i. Saye pon terus belajar dari fasilitas pengajian dll di BWI maupun pegiat wakaf nasional. Sedikit2 mengikuti negeri Jiran dan mancanegara. Terus terang Ziswaf sekarang seksi Yayi. Mari manfaatkan momentum dakwah,” kata saya.

Farid Gaban lahir di Wonosobo, 12 Juli 1961. Pernah bekerja di sejumlah media, antara lain, Majalah Editor (1986-1988), Redaktur Eksekutif Harian Republika (1990-1997), Redaktur Pelaksana Majalah Tempo (1999-2005), dan The Geotimes Magazine (2015-2019). Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Planologi, Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung (ITB, tidak lulus), dan Kursus Jurnalisme Ekonomi pada Center for Foreign Journalist, Reston, Virginia, Amerika Serikat (1988). Pengalaman liputan berkeliling Amerika Serikat (1988), Reunifikasi
