Jerman/Runtuhnya Tembok Berlin (1989), Perang Bosnia (1990), Jerusalem/Palestina (2000), setahun bersepeda motor (2009-2010) keliling kepulauan Indonesia dalam Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Kini Direktur Eksekutif Yayasan Zamrud Khatulistiwa, yayasan yang bergerak di bidang advokasi dan implementasi ekonomi biru di Indonesia; menjabat Ketua Dewan Riset Daerah Kabupaten Wonosobo (2020-2025) dengan kajian utama pertanian, ekonomi lokal, dan koperasi. Menulis sejumlah buku, antara lain, Dor! Sarajevo: Sebuah Rekaman Jurnalistik Nestapa Muslim Bosnia (Mizan, 1993); Belajar Tidak Bicara: Solilokui (Mizan, 1997); Pemilu Legislatif 2004 (bersama Tabrani Syabirin, 2004); dan Taman Laut Indonesia (Zamrud Khatulistiwa, 2017).
Mendapat respon saya begitu, Sang Kyai cuit begini via WhatsApp,” Insya Allah Bang Is, kita berkompetisi dg waktu, pemerintah sekarang sdh ikut campur proyek keummatan yg sangat strategis ini, tp tahulah kalau pemerintah sdh campur tangan “agak ragu”, insya Allah gerakan wakaf yg SDH mulai menggeliat ini, support dg BWI dan Tawaf Indonesia. Insya Allah.”

Saya terharu. Sang Kyai mau konfirmasi tentang hal aktual seperti ditulis Farid Gaban. Saya kebetulan pernah bersentuhan dengan jurnalis senior ini saat ekspedisi bersepeda motor ke Bumi khaTULIStiwa. Saya tahu dia orangnya kritis dan cerdas. Sederhana. Lebih dari itu juga cinta Indonesia dengan melahirkan banyak artikel termasuk buku-buku serius. Untuk itu saya tak ragu membuat “pembelaan” dari apa yang saya tahu tentang isi artikel Farid Gaban dengan setting lokasi Kalbar–Keling Kumang. Terlebih soal wakaf kini saya geluti di BWI Kalbar.
