Sejak saat itulah keberanian menuliskan Sultan Hamid mengemuka. Sepanjang kurun 1994-2012 lahir banyak narasi tentang Sultan Hamid yang digawangi Yayasan Sultan Hamid dan eksposurnya lewat media massa, terutama koran, majalah, tabloid, dan kini merambah media sosial tanpa batas.

Jalan menuju pengakuan negara sebagai pahlawan nasional pun terbuka. Plus minus Sultan Hamid bisa dicek dengan penelitian ilmiah. “Dari sisi penelitian ilmiah kita sudah selesai. Kini perjuangannya di jalur politik,” kata Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji, SH,M.Hum dalam berbagai kesempatan. Sebab nama jalan sudah dilakukan untuk Sultan Hamid, buku-buku telah terbit, arena diskusi ilmiah terus menggema, bahkan masuk ke jagad sastra dan budaya yang terus menggelinding bak bola salju di seluruh Indonesia.

Sejarah Hamid terkait banyak tokoh nasional. Berkelindan dengan banyak daerah. Tak terkecuali aspirasi dan sumbu utama pemikirannya tentang bagaimana memakmurkan Indonesia merdeka.

Nyawa perjuangan agar Sultan Hamid II pahlawan nasional ada di sana. Ada di harkat dan martabat manusia yang hanif atau condong pada kebenaran dan takwa. Inilah yang harus terus dikomunikasikan termasuk pengusulannya sebagai pahlawan nasional lewat seluruh syarat normatif maupun sosiologis historis.

Festival Nadi Khatulistiwa (Fena) 2020 adalah bagian dari ‘road to Pahlawan Nasional untuk peran sentral Sultan Hamid. Massa menyaksikan lagu Equator Eagle (Elang Khatulistiwa) buah karya Yudie Arwana Chaniago dengan musikalisasi multi etnik sebagai cermin ragam Nusantara yang indah. Yang memperkaya Indonesia Raya yang merdeka dalam ekonomi, politik dan budaya.