Di negara kita, Gubernur adalah jabatan tertinggi di sebuah provinsi. Jabatan itu adalah jabatan yang bersifat politis. Hubungan antara gubernur dan warga adalah hubungan antara penguasa dengan hamba (orang yang dikuasai).

Sementara dalam dunia kepesantrenan, hubungan kiai dengan santri adalah seperti hubungan antara ayah dan anak. Landasannya kasih sayang.

Dalam budaya nusantara, nilai dasar kepengasuhan adalah kasih sayang. Makanya seorang ayah atau ibu yang sedang menjaga anaknya sering diungkapkan dengan kalimat, “ia sedang mengasuh anaknya”. Dan bukan “ia sedang menguasai anaknya”.

Karena basis falsafahnya adalah kasih dan sayang, maka seorang ayah atau seorang seorang ibu tak mungkin baper kepada anak yang diasuhnya, sekalipun anaknya bersikap tidak wajar. Misalnya minta susu di tengah malam, nangis-nangis saat kita sedang sibuk bekerja, bahkan mem-pipis-kan atau meng-eek-kan baju kita, saat kita sedang menggendongnya. Tak boleh baper!

Kalau baper, kalau merajuk dengan anaknya sendiri, ayah atau ibu itu malah justru akan menjadi aneh. Ayah kok baperan, ibu kok merajukan. Hahaa.

Demikian juga seorang kiai. Seorang kiai memandang para santri sebagai anaknya sendiri. Hubungan antar keduanya adalah seperti hubungan orang tua dengan anaknya, didasari oleh kasih dan sayang.

Di kampung-kampung, santri-santri asuhan para Kiai banyak yang bandel. Siang mengaji, sore main judi. Sore mengaji, malamnya menjaga tempat prostitusi.

Namun, para kiai jarang yang baper saat mengasuh santri-santri bandel seperti ini. Para santri tetap diasuh, mereka tetap dianggap seperti anaknya sendiri. Para santri akan terus dibimbing, sembari berharap mudah-mudahan suatu saat kelak, para santri bandel itu akan berubah menjadi manusia yang lebih baik.