Kegairahan warga bertanam-kebun, belum diiringi pengetahuan dan kearifan mereka membaca pasar dan masa depan. Belum dimanage untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lingkungan. Belum juga didukung oleh kebijakan pemerintah semisal pendampingan, pemodalan, dan penyediaan prasarana.

Gubernur Kalbar mendatang dapat memanfaatkan kegairahan warga dalam bertanam-kebun dan berwirausaha, sehingga ekonomi lingkungan tumbuh. Lapangan kerja yang sering dikeluhkan dapat terbuka.

Kedua, potensi komunitas dan budaya. Kalbar dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Banyak suku dan komunitas. Masing-masing memiliki budaya dan kearifan. Tak terhitung jumlahnya.
Selalu ada orang-orang hebat dari komunitas itu, mereka yang menciptakan inovasi baik budaya material maupun non-material. Mereka menjadi panutan dalam bidangnya.

Semua ini akan menjadi modal yang sangat berharga untuk pembangunan daerah ini ke depan. Bahkan, modal budaya, terutama modal sosial, nilainya bisa tidak terkira besarnya, yang akan membuat gerak dan dinamika pembangunan menjadi lebih rancak dan dahsyat.

Pemimpin mendatang moga-moga tertarik untuk memandang potensi budaya ini sebagai khazanah berharga: baik langsung maupun tidak langsung. Lalu muncul rencana pembangunan yang bertitik tolak dari khazanah lokal tersebut.

Pendekatan ini rasanya penting karena sering kali orang memandang keragaman daerah ini biang masalah dan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Sering seorang pemimpin terjebak ketika bersedia diajak untuk hanya memikirkan komunitasnya dan menjadikan sebagai instrumen politik, lantas menganggap komunitas dan budaya lain lain sebagai musuh. Energi positif pun jadi negatif. Kalbar tidak akan bisa maju hanya dengan memajukan satu kelompok, karena Kalbar milik bersama. Setiap kelompok di Kalbar hidup berkongsi ruang dengan yang lain.