Oleh: Nur Iskandar
Pada tahun 2014 Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menganugerahinya award Tokoh Kebudayaan. Saya salah satu dewan juri yang diketuai oleh Dr Aswandi yang saat itu Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Di dalam tim juri yang ditanda-tangani Gubernur Drs Cornelis, MH itu ada jurnalis senior yang juga budayawan HA Halim Ramli, tokoh Dayak sekaligus tokoh pendidikan Dr Clarry Sada, tokoh adat Drs Yakobus Kumis, dan beberapa lagi yang lainnya. Saya anggota tim yang termuda.
Saya menghimpun bahan tentang Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting yang sudah saya kenal sejak menjadi reporter kampus Mimbar Universitas Tanjungpura kurun waktu 1992-1997. Dia orang yang menyenangkan jika diwawancarai atau diajak bercerita. Aksentuasinya full spirit. Kadang meledak-meledak saking semangatnya.
Ini adalah bagian tulisan saya tentang Massuka dan di dalamnya dia bercerita bahwa dirinya adalah “didikan” Hamid di mana dia diberikan beasiswa, diberikan beberapa hadiah sebagai kenangan hidup, serta kemampuan keilmuannya tentang adat sangat dihargai. Massuka saksi hidup yang saya wawancarai karena dia diundang ke Hotel Des Indes yang keramat itu. Saya sebut keramat karena di Hotel Des Indes Sultan Hamid berdomisili selama dinas di kabinet RIS, dan di sana pula dia ditangkap pada tahun 1950 dengan tuduhan makar – buntut dari peristiwa APRA . pimpinan Westerling.
Kisah tentang Massuka yang menjadi tokoh kebudayaan Kalbar tahun 2014 itu dibukukan pula secara internal sebagai laporan kerja dewan juri kepada Biro Sosial Pemprov Kalbar. Berikut petikannya:
