Dari uraian di atas tampak bagaimana kepemimpinan Sultan Hamid sosok kontroversial di dalam kesejarahan Indonesia. Orang-orang yang tidak mengenal Sultan Hamid II Alkadrie seutuhnya menilai dengan kacamata kuda bahwa Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila dan diplomat ulung di meja perundingan hingga diakuinya kedaulatan Indonesia (1949) adalah pengkhianat negara dengan tuduhan berkomplot dengan Westerling. Namun bagi orang-orang yang mengenal dekat dengan dirinya menilai Sultan Hamid II layak dianggap Pahlawan Nasional karena jasa-jasa dan kebaikan-kebaikan yang ditinggalkannya.*

[Keterangan Foto: Foto diambil saat Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie mengajak penulis mampir ke kediaman Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting yang berdampingan dengan Mesjid Jihad, pertigaan Jl Sumatera dan Jl Sultan Abdurahman di tahun 2013. Saat itu baru saja diluncurkan buku biografi politik Sultan Hamid berjudul Sang Perancang Lambang Negara, terbitan TOP Indonesia, di mana salah satu narasumber yang diwawancarai adalah Massuka Djanting. Buku biografi politik Sultan Hamid ditulis oleh Anshari Dimyati, Turiman Faturahman Nur dan Nur Iskandar. Kini Massuka Djanting telah tiada. Begitupula Max Jusuf Alkadrie. Alhamdulillah-Puji Tuhan kami sempat menggali kesaksian keduanya tentang Sultan Hamid II Alkadrie sosok yang hingga kini dinilai kontroversial. Namun kesaksian-kesaksian yang kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi pelurusan sejarah tentang diri seseorang agar bersama kita tempatkan di tempat yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sesuai nilai-nilai Pancasila: Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sesuai dengan lambang negara Garuda Pancasila di mana dia menoleh ke kanan. Artinya, melihat secara husnuzhan. Melihat yang baik dan positifnya. Tabarakallah. Semoga Tuhan memberkati Bangsa Indonesia. Amiin.]