Ternyata, gagasan untuk bergabung dengan Indonesia merdeka juga bergema di kalangan raja-raja lain di seluruh Nusantara. Mereka ingin bergabung, namun juga ingin memastikan nasib rakyat dan keberlangsungan sistem ketatanegaraan, hukum, serta kedaulatan yang telah mereka miliki. Dari sinilah lahir Badan Musyawarah Negara-negara Federal (BFO). Ide Anak Agung Gde Agung dari Bali menjadi ketua pertamanya, dan Sultan Hamid II menjadi ketua BFO periode kedua.

Penting untuk diingat, BFO bukanlah boneka Belanda. Sistem federal yang mereka perjuangkan bertujuan melindungi kekayaan peradaban kerajaan-kerajaan di Nusantara. Akhirnya, disepakatilah bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Sultan Hamid 2 menjadi putra Kalimantan pertama yang menduduki posisi di kabinet RIS, sekaligus menjabat sebagai Gubernur pertama Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB).

Di masa jabatannya sebagai anggota Kabinet RIS, Sultan Hamid 2 dengan gemilang merancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. Lambang kebanggaan ini diresmikan pada 11 Februari 1950, menjadi simbol persatuan dan keutuhan bangsa.

Banyak foto mengabadikan keakraban Sultan Hamid dengan para Bapak Pendiri Bangsa seperti Soekarno-Hatta, Hamengkubuwono IX, TB Simatupang, Sjahrir, dan Ide Anak Agung Gde Agung. Dari gestur dalam setiap foto, terlihat bahwa Hamid adalah yang termuda di antara mereka. Namun, karisma dan auranya memancar luar biasa. Kewibawaannya tak kalah gagah perkasa. Maklum, ia adalah seorang ningrat, seorang aristokrat, cerdas sekaligus ilmuwan, dan petinggi militer yang nasionalismenya tak perlu diragukan lagi.

Lihatlah belasan foto yang menunjukkan gestur anak muda hebat dari Pulau Kalimantan ini. Resapi kepemimpinan dan warisan besarnya: Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila, serta perannya dalam pengakuan kedaulatan dari Belanda saat Indonesia sangat membutuhkan legitimasi atas kemerdekaan 17 Agustus 1945.