Saya terus menyimak data dan fakta di era 1990-an itu. Decak kagum tentu bergemuruh dalam dada. Tagline “ijo-royo-royo” membahana.
Hitungan para senior tak terperi. Tak cukup dihitung dengan jari dalam jajaran pejabat tinggi. Untuk inilah Try memuji. HMI setara dengan ABRI.
Kader HMI bertaburan di jajaran kabinet kendati tidak muncul dari barak. HMI dibesut oleh sistem kaderisasi. “Sistem kaderisasi HMI ini yang luar biasa. Terus pertahankan,” timpal Try.
Jangan tanyakan lagi HMI di luar kabinet. Sebut misalnya di DPR-RI hingga turunannya di DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten maupun Kota seluruh Indonesia. Rasanya, kemana saja pergi selalu ada HMI.
Saya masuk HMI pada tahun 1992. Persis ketika rambut masih cepak. Tapi HMI bukan barang baru bagi saya. Di rumah sudah banyak stempel HMI yang berbentuk pensil atau pena tersebut. Ia terpajang pada beberapa lembar buku milik ayah yang berlatar belakang guru agama.
Usut punya usut ayah seangkatan dengan mantan Ketua Umum HMI Cabang Ir Faisal Makmur Mukti. Ayah ada di Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Cabang Pontianak.
Menurut cerita Beliau, bahkan pernah mengontrak rumah di Gang Padi–kini Jl Prof Dr Hamka–di depan Mabes HMI–agar dekat dengan HMI. Kala itu ayah saya baru menikah dan memiliki satu putra yakni HM Nur Hasan dan kini si abang berkhidmat bersama Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin.
