teraju.id, Pontianak – Pada mulanya didapuk Pak Bambang Muryanto guru sekolah ke Bengkel Seni Mujahidin. Di sana kami dilatih olah vokal dan baca puisi oleh Pak Yudhiswara. Ia sastrawan Kalimantan Barat. Kerap didampingi Long Mizar Bazarvio dan Mirzan Art. Semua mereka aktivis Taman Budaya era 1980.
Pada masa SMP Mujahidin rentang waktu 1986-1989 itulah kami didaulat membacakan puisi sambutan di hadapan Presiden Penyair Indonesia Sutardzi Calzoum Bachri dan Abdul Hadi WM.
Jika Sutardji Calzoum Bachri melanglang buana dengan puisinya yang magis, maka Abdul Hadi WM tampil dengan gramatika puisi tasawuf-relijius.
Dalam rentang waktu itu pula hadir pentas Bengkel Teater si Burung Merak, Willy Brodus Surendra Rendra yang populer disingkat WS Rendra–dan ketika Mas Willy memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan Pantai Parang Tritis Yogyakarta namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra–pentas Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Sebuah teatrikal indah sarat pesan moral dan sukses mentas keliling dunia.
Saya berkesempatan belajar langsung darinya lewat liputan dan wawancara. Ketika itu era reformasi 1998. Saya beruntung meliput kehadiran Sang Penyair Balada di pers kampus Mimbar Untan. Di saat saya minta kenang-kenangan puisi usai haru mendengarkan kisah hidupnya, maka suami dari Niken Zuraida dan sebelumnya Sitoresmi ini menulis:
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
Agaknya tak perlu dijelaskan
Teks puisinya bernyawa. Berjiwa. Memiliki ruh. Menghidupkan nuansa menjadi penuh …menjadi utuh. Begitulah puisi.
Di masa pers kampus saya geluti 1992-1999, saya merasa nyaman dengan liputan sastra. Lubuk penuh ikannya adalah Sanggar Kiprah. FKIP Universitas Tanjungpura. Di sana saya meliput bersama dua aktivis pers kampus yakni Syafarudin Usman MHD dan Sri Nur Aeni. Di sana pula berinteraksi dengan Eusabinus Bunau, Pradono, Dedi Ari Aspar, hingga Sapardi Djoko Damono yang mereka undang berkisah sastra puitik Hujan Turun di Bulan Juni yang sederhana namun sangat romantik.
*
Pada saat SMP kelas 1 tepatnya HUT 17 Agustus 1986 pihak Taman Budaya Pontianak bekerjasama Kanwil PDK menggelar lomba baca puisi kemerdekaan. Di sana puisi Rendra, Abdul Hadi WM, Sutardji dan Taufik Ismail jadi pilihan. Saya membacakan Puisi Wajib Chairil Anwar Antara Kerawang Bekasi dan puisi pilihan Dari Seorang Tukang Rambutan kepada Istrinya…. Alhamdulillah dengan bimbingan kurator puisi Kalimantan Barat Josep Oedilo Oendoen saya dapat juara harapan 1. Masuk radio Diah Rosanti untuk wawancara. Sebab saya paling kecil saat itu. Para jawara yang lain sudah pada kesohor Kak Yani, Beben, Iqbal….
Berinteraksi dengan komunitas puisi saya mendalami realitas berujung teks kata kata yang bernyawa menyiratkan pesan sangat dalam adalah rautan peradaban.
Ditambah dari liputan pers yang melaporkan aneka peristiwa pula saya mengenal Wiji Thukul dengan teks puisi lawasnya nan sangat pamungkas di kalangan pegiat pers kampus adalah: Hanya satu kata: Lawan!
Kekinian saya aktif sebagai Atelian. Asosiasi Tradisi Lisan. ATL.
Berada di atmosfer orang orang pintar dan cerdas lewat gema sastra dan budaya level nasional dan internasional. Di sana saya berguru dengan KH Djawawi Imron dan Prof Mujizah, juga Prof Dr Chye Retty Isnendes. Sosok yang dengan telaten mau menjawab berbagai pertanyaan seputar sastra dan budaya. Pakar pakar di bidangnya dan menekuni relung akademiknya dengan perasaan cinta sastra yang halus dan lembut selembut sutera dengan benang benang emas.
Di sana juga ada Bunda Ninuk Kleden. Bu Isworo. Bu Kartini. Dan masih banyak lagi…

Ternyata puisi erat kaitannya dengan pantun. Kalau puisi adalah sastra modern dengan metafora dan rima, maka pantun adalah filsafat hidup Melayu yang turun temurun menjadi lingua frangka dan Bahasa Persatuan Republik Indonesia. Ia menjadi bahasa pergaulan, bahasa dagang, pendidikan hingga simbol politik.
Pantun sastrawi sekali. Apa-apa saja dilantunkan. Dipantunkan. Baik sedih maupun bahagia. Suka maupun duka. Ada asa asih dan asuh membentuk budipekerti dan akhlakul karimah. Character building yang sangat penting.
Ketika saya masuk final LKTI di Unsoed Purwokerto dengan judul Pemanfaatan Mikoriza Vescular Arbuscular untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Lahan Gambut ayah saya berpesan sebuah pantun:
Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik Gunung Angsa Dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik tuan terkenang jua
Ndilalah saya diminta mewakili finalis untuk kesan dan pesan. Kebetulan kami juga juara 1 saat itu. Maka pantun di atas pecah membuncah. Membuat tepuk tangan mengembang.
Ternyata pantun disambut antusias di Jateng. Saya suka. Sejak saat 1993 itu, pantun dikais lagi secara arkais. Dibaca. Diteliti. DIpelajari.
Ternyata kehidupan kami syarat pantun. Hampir setiap upacara akad nikah orang-orang berpantun. Juga ceramah agama. Apalagi sambutan petinggi negeri. Jadi pantun sudah melekat erat. Mendarah daging.
Di era 1980 kami belajar dengan Ustadz Haji Asfiah Mahyus yang populer dengan pantun:
Jalan jalan ke Kota Mekah
Jangan lupa membeli kurma
Kalau tuan mau berkah
Hendaknya patuh pada ayah-bunda
Di kediaman Asfiah Mahyus juga saya mendapatkan “mukjizat” the missing link berupa pengakuan Bung Karno bahwa Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II Alkadrie dan bukannya Muhammad Yamin. Belakangan menjadi buku biografi politik yang masyhur di negeri Dwi Warna. Indonesia Raya.
Pantun terkais lebih intens sebagai Atelian di MABM. Di sana ada Prof Dr H Chairil Effendy yang pakar sastra lisan membimbing kami. Amat terkenal pantunnya:
Kalau bukan karena tenun
Tidak baju menjadi cual
Kalau tidak karena pantun
Tidak Melayu jadi terkenal
Di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL/Atelian) pula Prof Dr H Chairil Effendy mengenalkan dengan ketokohan Dr Pudentia MPSS. Wanita hebat Asia Pasifik di bidang sastra lisan bersama Unesco Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengannya pula kami bergandengan tangan memperjuangkan pantun WBTB Unesco tentu bersama Riau, Kepri, dan Betawi.
Di masa membangun Harian Borneo Tribune, kami membuka rubrik Filantropi. Di sana ada liputan satu halaman berbagai derap filantropis di Kalimantan Barat.
Wartawati saya, Safitri Rayuni meliput Warung Kopi Pantun Pusaka Agus Muare. Agus Muare juga telah menerbitkan berbagai buku pantun selasih.
Sejak membaca hasil liputan lengkap dan menarik itu saya kagumi pria Bugis-Melayu di Desa Kapur sejak 2007. Kemudian akrab hingga kini di Serumpun Berpantun dan Pagar Budaya.
Darinya kami mendapat insight bahwa pantun dan puisi akan kekal abadi seperti Postulat Hang Tuah “Takkan Melayu hilang ditelan zaman….” Tentu dengan satu catatan, jika filsafat sastra sarat pesan universal sosial, budaya hingga politik menjadi api nan tak kunjung padam.
Bahwa lewat rasa yang terdalam kita terhubung kepada Tuhan dengan tugas kekhalifahan. Leadership. Kepemimpinan dengan mengingatkan yang kaya menolong yang papa. Meruwat lokalitas dan nasionalitas serta internasionalitas lewat human interest. Sentuhan hatinurani dan akal budi yang merawat alam agar hijau lestari dan aman diwariskan kepada anak cucu. Begitulah pantun dan puisi berperan dalam meraut peradaban.
Kini kami berkolaborasi dengan generasi muda. Ada Dr Rendra Setyadiharja dan Yoan di Kepri. Teman teman beruas di Padang. Terutama Atelian serta komunitas seni sastra puisi, pantun hingga berdendang dalam Tundang. Hingga berdendang bersama jawara nasional nasyid TnG Tan Shah Khumainy dan Rhoma Iramanya Malaysia Ayahanda Roslan Madun.
Di bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah serta ampunan ini, perkenankan saya sebagai mursyid mengucapkan selaksa terimakasih kepada para guru di seantero negeri. Semoga ilmu dan pengajarannya menjadi amal jariyah. Alfatihah washallu ‘Alan Nabi.
Kulat banir kena peluh
Kulat kiara kena pukat
Bulat air karena buluh
Bulat suara karena mufakat
Buka kelapa dapat sabut
Buka jala dapat ikan
Tuan datang kami sambut
Tuan pulang kami antarkan. *
Kolase foto dari sederet nama yang disebutkan. Namun dengan segenap keterbatasan tak semua dapat ditampilkan. Nuhun.
