teraju.id, Pontianak – Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) kali ini begitu menyentak. Menghantam batin dan akal sehat. Sangat bergetar serasanya ingin luluh dan runtuh saking gemuruh.
Betapa tidak? Yang bicara adalah Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat Bapak Doni Septadijaya. Orang nomor satu BI di Borneo Barat. A-1.
Beliau bicara soal HBII dalam konteks diplomasi budaya melalui bahasa dan sastra. Bagaimana agar visi misi kemerdekaan melalui kesejahteraan rakyatnya bisa lepas dari yang namanya middle trap income. Jebakan kelas menengah.
“Kalau kita tak bisa membawa pendapatan perkapita Rp 15j per bulan per-KK, maka negara kita gagal menjadi negara maju selamanya!”
Sungguh keras. Menampar. Khususnya kepada kami pegiat kebudayaan, bahasa dan sastra. Bagaimana 400-an sub suku bahasa Dayak dan 20-an dialek Melayu Kalimantan Barat serta puluhan suku berdiam di sini bisa berkontribusi mendelivery beban tugas pembangunan sehingga leader dan follower bisa bergerak bersama mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia bersama sama. Indonesia Emas 2045 yang tersisa 19 tahun saja lagi dari sekarang.
Bisakah bahasa ibu berpartisipasi? Jawabnya bisa! Optimis.
Rawe-rawe rantas…
Segala hambatan? Kibas. Libasss!
*
