Oleh: Hermayani Putera
Pagi hari ketiga di Nanga Bungan. Setelah sarapan dan pamit kepada warga di sini, sekitar pukul 07.00 WIB kami bertolak ke Desa Tanjung Lokang, kali ini bersama rombongan besar bupati. Trek cukup berat dan menantang di sini, karena di tengah perjalanan ada riam yang medannya sangat berat untuk dilalui.
Riam Bakang namanya. Formasi bebatuan dari kiri ke kanan di riam membentuk tingkat kesulitan sangat tinggi untuk dilalui perahu. Perjalanan dari Bungan hingga ke Riam Bakang cukup lancar. Setibanya di riam, kami semua turun, dan melanjutkan perjalanan menapaki batu-batu besar dan licin.
Rombongan kami melangkah pelan-pelan. Aku mengambil posisi di belakang. Albert, Hermas, Mardan, dan Ismet dengan lancar tiba di titik istirahat, sambil menyiapkan diri menarik perahu bersama penduduk dan beberapa anggota rombongan besar lainnya.
Tinggal aku sendiri dengan beberapa penduduk di belakang. Sesampainya di satu turunan batu yang cukup licin, aku tidak terlalu pas mengambil posisi menjejakkan kaki ke batu berikutnya yang lebih rendah. Duukk!!! terjadilah insiden tersebut. Lutut kiriku membentur bagian batu yang cukup tajam.
