HBII yang jatuh setiap 21 Februari diperingati dari ihwal sejarah di Bengali. 1952. Sejumlah pemuda meregang nyawa demi memajukan bahasa ibu. Oleh Unesco (2022) sejarah pedih berdarah itu menjadi pengingat bahwa bahasa ibu kudu dilindungi. Sebab pengetahuan setiap anak didapat dari bahasa ibu yang pertama didominasi oleh bahasa daerah masing-masing.
Kepala Pusat Bahasa Ibu Dora Amalia melalui jalur virtual menabalkan pentingnya HBII diperingati. Seperti 21 Februari dimaknai di Gedung BI dengan 150 undangan memenuhi ruangan.
“Peringatan di Kalbar kali ini menunjukkan kolaborasi sejati antara Balai Bahasa dan BI serta GenBI, Duta Bahasa maupun tokoh adat dan budayawan daerah. Kita petik manfaat sejarah Bengali tanpa harus berdarah karena negara hadir melindungi bahasa ibu dengan trigatra bangun bahasa. Utamakan bahasa persatuan, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.”

Pantun membahana di Gedung BI. Dimulai dari Master of Ceremony. Sepasang muda-mudi. Dilanjutkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Ibu Dr Uniawati dan Kepala BI Pak Doni Septadijaya. Apalagi tiga narasumber masing-masing saya, Afifah dan Paturahman. Dua nama terakhir mewakili generasi muda Kalbar unsur Duta Bahasa dan GenBI. Bahkan pertanyaan peserta (Ibu Dara dan Sophian Sadikun) hingga penceramah buka puasa bersama Ustadz H Mahmud dari Kanwil Kementerian Agama banjir pantun. Tergelak tawa dengan level sopan santun.
