Nah, istri Nico Van Delden adalah dara keturunan Kerajaan Bugis (Sidenreng-Sulawesi Selatan) yang mana Sulsel itu juga penghasil kopi ternama. Sehingga Didi atau Dina Van Delden adalah “hibrid” antara Belanda + Bugis.

Sultan Hamid juga ada darah Bugisnya, yakni dari uyutnya Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie yang menikahi putri Opu Daeng Manambon dari Mempawah, yakni Putri Chandramidi. Kesimpulan saya, sejarahwan yang menuding Kebelanda-Belandaan adalah keliru!

Justru Didi Van Delden teramat sangat Indonesianis. Dia terus merindukan kampung kelahirannya–suka berkebaya–juga merindu-rindu akan Kesultanan Pontianak-Qadriyah. Dia menyatu dengan perempuan Pontianak selama mendampingi suaminya sebagai Sultan. Anak-anaknya Edith Alqadrie dan Max Yusuf Nico Alkadrie dididik cinta akan Indonesia. Sampai akhir hayat mereka, kecintaan kepada Indonesia tak tertahankan.

Sampai kini, cucu Sultan Hamid bernama Angelique Kater merindu-rindu Indonesia khususnya Pontianak. Angelique Kater pada umur 18 tahun terakhir kali ke Pontianak. Nah cucunya ini ada memberikan testimoni saat kami menyelenggarakan Live Concer 107th Sultan Hamid. Sila cek di YouTube teraju.id. Dia bicara dalam Bahasa Inggris namun sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia versi running text.