Di hari libur Maulid Nabi SAW sampai lagi ke Parompong, Toho. Daerah indah dengan kontur berlekuk-lekuk di antara Anjungan, arah Bengkayang.

Melihat pemandangan demikian, ada miripnya juga dengan Bandung Barat. Nama sama. Kontur pun sama.

Tempo Doeloe 1988 kendaraan roda empat belum bisa masuk. Kami turun di kantor kecamatan. Lanjut berjalan kaki sekira 2 km.

Hawa sejuk di antara rimbun pohon raksasa menyebabkan jarak tak terasa. Panorama begitu memanjakan mata.

Bapak mengajak kami ke sini untuk survey lahan. Selain senang berjalan 80 km meninggalkan kampung halaman Sungai Raya Dalam pinggiran Kota Pontianak, juga sekaligus kami menjadi teman diskusi beliau. Bapak suka minta pendapat. Terutama emak. Apalagi untuk mengambil keputusan. Terutama keputusan strategis.

*

Pak Kasikin menyambut kami di sebuah pondok. Ia punya hamparan lahan yang luas. Berhektar-hektar.

Pada bagian lembah menjelma karpet hijau. Semuanya padi. Tumbuh subur sekali. Persis pemandangan di tivi-tivi ketika dikunjungi Bapak Pembangunan, Presiden Soeharto yang terkenal dengan Pelita. Pembangunan Lima Tahun-nya.

Di kontur lereng dibangun tegalan. Di sana ditanam lada. Orang kampung kami menyebutnya sahang.

Pondok ditinggali keluarga petani binaan Pak Kasikin yakni Pak Akin. Beliau punya anak-anak kecil, yakni Marto, Yunus dan Atek. Ketiga anak ini biasa saya gendong dan ajak bermain.

Pak Kasikin sendiri adalah orang Jawa yang ulet. Di celah kesibukannya sebagai PNS Departemen Agama–sama dengan ayah saya–pinter mengelola sumberdaya. Terutama pertanian.

Berangkat dari kesuksesannya mengelola pertanian, dia mengajak Bapak untuk membeli beberapa lahan miliknya karena terlalu luas.

Singkat cerita, Emak sependapat untuk mengambil beberapa hektar. Saya yang bercita-cita untuk menjadi insinyur pertanian juga suka sekali. Sehingga Bapak memutuskan membeli beberapa hektar. Lebih lanjut kami membangun pondok tani dan dijaga paman. Wahab namanya. Ia kemudian bertetangga dengan Pak Akin.

*

Semasa SMP kelas 2 saya menanam 100 bibit jeruk sambal. Hasil cangkok sendiri.

Pohon induknya ada di depan teras.

Saking suburnya tanah Parompong, setahun tanam saya panen 300 kg buah jeruk sambal. Saya panen bersama Krisworo. Ketua kelas di SMP Mujahidin. Berkarung-karung dibawa ke Pasar Flamboyan. Hasilnya dibelikan buku. Salah satunya buku terjemahan Alquran yang saat itu hanya ada versi Departemen Agama. Niatnya belajar agama. Yakni membaca tafsir…

Seiring dengan itu Bapak memasok ratusan bibit melinjo. Niatnya adalah memproduksi emping. Namun panen rutin adalah singkong yang jika dicabut sebesar paha orang dewasa. Juga pisang selendang. Subur sekali. Tak ayal, kebun kami jadi destinasi famili dari Kota Pontianak.

*

Marto kini sudah menjadi Pak RT. Anaknya dua. Si sulung sudah bekerja. Adiknya SMP.
Enam tahun lamanya pasca Covid saya tak pernah kemari. Namun pohon durian, rambutan, jengkol, kelapa, jeruk masih gagah terpacak.

Bu Asen Kota menyambut kami. Membawa keliling lahan yang dulu rimbun dengan pohon karet, kini berubah sawit. Daerah ini juga kaya Bauksit. Makanya Aneka Tambang masuk juga dengan pembebasan lahan telah mencapai 2000-an hektar.

Konon di sekitaran lahan kami sudah pada dilepas. “Lalu mereka pindah ke mana Nek,” tanya saya kepada Bu Asen Kota. Dijawab, “Di mana-mana mereka punya keluargalah. Ada dekat sini,ada juga pindah daerah.”

Saya mendehem. Warga asli bisa kehilangan tanah di kampung halamannya sendiri jika tidak hati-hati.

*

Parompong 1988 2026.0 1

Sewaktu beranjak pulang mata terpandang Koperasi Merah Putih. Gagah sekali. Tapi pintunya tutup semua. Mungkin libur. Mungkin baru jadi dan belum diresmikan.

Ada dua lagi Koperasi Merah Putih saya temukan di sepanjang jalan. Namun sama. Tutup.

Semoga ekonomi kita bertumbuh. Bertumpu pada kekuatan otak dan hati untuk mengelolanya lestari. *