Dari tadi, dari awal saya masuk, hingga sekarang, baru sampai urutan 72. Itupun banyak nomor urut yang tidak ada, karena mungkin sudah pulang lebih duluan. Yang saya hitung, kemungkinan baru 5-7 orang yang dilayani, dari pukul 12.30, hingga 14.40 an.

Saya pun hanya mengiyakan saja. Hingga pukul 16.00 WIB, akhirnya giliran saya dipanggil. Yaa, urutan A 92 dari urutan A 54 sewaktu saya datang. Saya pun dipersilahkan duduk dan mengutarakan kebutuhan saya.

“Tidak bisa Mas. Telpon tidak bisa diputus. Karena telpon merupakan layanan utama kita.” Kata mbak-mbak yang melayani saya.

Tentu saja saya kaget, karena sebelumnya, saya telah menelpon call center mereka yang di Jakarta sana, bahwa mereka mengatakan bisa diputus, dan butuh waktu sebulan. Jadi nanti hanya bayar internetnya saja Rp. 250.000,-, telponnya gk usah. Begitu saya sampaikan apa yang telah disampaikannya kepada mbak-mbak di depan saya, dia tetap bersikeras mengatakan tidak bisa diputus.

Akhirnya, saya pun pulang dengan rasa kecewa. Saya dibuat menunggu berjam-jam, hanya untuk pulang tak menuai hasil yang saya harapkan. Yang membuat saya kecewa yaitu tidak sinkronnya apa yang telah dikatakan oleh service provider pusat, dengan yang di sini. Yang di sana bilang bisa, yang di sini bilang tidak bisa.

Saya pikir, ada benarnya juga kata bapak tadi. Bahwa, sebagai BUMN, seharusnya pelayanannya lebih maksimal. Jangan sampai, yang saya alami juga di alami oleh yang lain. Menunggu berjam-jam, namun tidak mendapatkan apa-apa.
(*)