Ilmu perselomangan dan perkeladian (slomagology dan keladiology) memberikan saya pengajaran tentang hidup. Dengan sedikit sentuhan Midas (bukan dalam artian sombong) para penghoby, dan treatment sains yang sederhana, serta taste estetis yang tinggi, kedua hamba Tuhan yang semula habitatnya di parit dan rawa, naik pamor dan kastanya. Tidak hanya terangkat status sosial diantara kolega flora dan fauna lainnya, akan tetapi memberikan “harga kepuasan” yang tinggi bagi manusia. Dari segi harganya bisa menjadi tambahan income yang memadai, dan menjadi inspirasi tentang keindahan dan kepuasan.
Di tengah “kesenduan” hidup akibat pandemi Corona, dan silang sengakrut perpolitikan yang semakin dalam keterbelahannya, hadirnya Slomangology dan keladiology menjadi “penghibur”. Setidaknya menghibur mata, hati dan dompet. Dan yang paling tidak disadari, para penghoby kini sebagian orang dewasa.
Ini gejala menghadirkan jiwa kekanak-kanakan (bukan dalam artian childish yang cenderung negatif), akan tetapi jiwa yang dipenuhi kegembiraan meski untuk hal-hal yang kecil dan sepele. Kemudian jiwa kekanak-kanakkan juga jiwa yang bukan pendendam dan mudah berdamai. Tempat kiranya, istilah “small is beautiful”.
Khulasah dari iseng-iseng ini, saya mengambil ibrah (pengajaran) bahwa, kita yang bukan siapa-siapa, jika “dipoles” dengan sains (ilmu pengetahuan), rasa estetika yang tinggi dan dilakukan sebagai hobi, maka kita bisa bermetamorfosa dari nothing menjadi valuable and meaningful (bernilai dan bermakna).
Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak
