in

Ikan Cupang Bang Yanda

IMG 20210204 WA0082

Oleh: Yusriadi

Sepekan ini saya memiliki tambahan kegiatan baru. Melihat ikan cupang. Tepatnya, melihat perkembangan anak dan induk ikan cupang. Saya mengontrol air dan pakan. Memasukkan daun pisang, kutu air, cairan kuning telur, dan lain-lain.

Kesibukan ini muncul gegara anak saya, Bang Yanda. Dia meminta dibelikan ikan cupang, setelah kami tidak setuju dia minta belikan anak kucing. Ikan cupang pilihan ke-dua dia, dan kami setuju.

Kami membelinya di tempat penjualan ikan cupang di Sungai Raya. Sepasang. Saya minta sepasang dengan harapan bisa dikembangkan. Penjual yang memilih mana betina dan mana jantan. Betina kata dia, betinalah ikannya. Jantan kata dia, jantanlah… Saya sama sekali buta soal jenis cupang. Tidak pernah menggemarinya.

Abang suka cupang karena dia berteman dengan anak tetangga. Anak tetangga memiliki ikan ini, Mereka beli.
Di parit di sekitar gang, mereka hanya bisa mendapatkan ikan slomang dan kapi. Ada anak gabus atau anak ikan sepat. Kadang kala mereka mendapatkan dan membawa pulang berudu; anak kodok. Jenis terakhir ini membuat ribut Bundanya, dan membuat saya tergelak-gelak.

Baca Juga:  Dari Rusen Dengan Gunta Wirawan

Ikan cupang yang baru dibeli dimasukkan ke dalam akuarium kecil yang sudah diisi air hujan dan rumput air. Setiap hari entah berapa kali, Bang Yanda berulang alik melihatnya –tepatnya, mengacaukan ikan. Dia mengajak kawan-kawannya menangkap ikan memindahkan ke wadah kecil, memberi makan sesukanya. Bonyoklah ikan itu. Kalau sudah puas, ikan itu dikembalikan ke dalam akuarium.

Tiga empat hari kemudian gelembung di sudut akuarium semakin banyak. Terutama kalau pagi, jumlah gelembungnya bertambah.

“Yah, ikannya betelo’,” kata Abang ribut.

“Lihat, Yah,”

Saya tidak yakin. Saya kira hanya gelembung saja, ciri ikan ini membentuk teroriti.

Sehari dua saya masih tidak percaya ikan cupang Abang bertelur. Tetapi, Abang dan juga Bundanya sudah yakin di gelembung ini ada anak ikannya.

Hingga kemudian saya bawakan lampu untuk melihat dengan lebih jelas apa yang ada di balik gelembung itu. Benar, saya sesuatu. Ada anak ikan. Kecil sekali.

Saya ingat ada keluarga saya pernah mengatakan induk ikan cupang memangsa anaknya. Janta yang menjaga anaknya. Cupang betina kemudian dipindahkan ke dalam wadah dari potongan botol plastik besar.

Baca Juga:  Sinergi Kegiatan BPDASHL Kapuas

Semakin lama, anak-anak ikan cupang semakin jelas. Mengapung, bergerak kala airnya disentuh.

Mau tidak mau saya membuka video tentang ikan cupang. Setiap ada waktu, saya dan Bang Yanda menonton, mencari informasi tentang pemeliharaan ikan hias ini. Setelah itu kami praktikkan. Makanya, itu tadi, kami mencari daun ketapang, daun pisang, membuat larutan kuning telur, dll…Semangat abislah pokoknya melihat laaSemangat ini mengingatkan peluang usaha. Kayaknya, sependek ini, saya menganggap ikan cupang sangat mudah ldikembangkan. Bayangkan, seminggu sejak dibeli, ikan ini sudah beranak pinak. Banyak sekali. Menurut video, ikan ini bisa dikawinkan dalam dua minggu sekali.

Harga jual ikan ini juga lumayan. Di gerai penjualan, harganya di kisaran Rp15-100 ribu per ekor, tergantung ukuran dan bentuknya.

Peluangnya luar biasanya. Mungkin bisa menjadi alternatif bagi yang ingin mencoba dan berusaha. (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

IMG 20210204 WA0028

Rekayasa Ekosistem

IMG 20210205 WA0024

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun: Abangnda HM Ali Nasrun Berpulang ke Rahmatullah