Emak dibesarkan dalam keluarga relijius. Tak kenal kata pacaran. Menurut emak, resep dapat suami teladan hanya berdoa. Doanya dikabulkan lewat budaya Bugis yang relijius. Emak mengaji, bapak guru agama muda tamatan PGA. Keluarga besarnya pendiri Mesjid tertua setelah Jami’ Kesultanan Qadriyah Pontianak, yakni Asyakirin Sungai Jawi dan Ikhwanul Mukminin Sungai Raya Dalam (1932).
Karena sepi hanya dua bersaudara, emak mau punya banyak anak. Dikabulkan juga.
Bang Nur Hasan lahir 7 Februari 1970. Saya anak ketiga. Kelahiran 13 Februari 1974.
Kakakku Nurmasyitah (1971) dan dua adik perempuan masing-masing Ida Afiati (1977) dan Lina Warda (1980).
Saat wafat akhir tahun lalu, emak meninggalkan 5 anak, 5 menantu dan 15 cucu serta 2 cicit.

Mungkin anak lelaki lebih dekat ke ibu dan anak perempuan lebih dekat ke bapak secara alamiah, saya dua malam lalu mimpi bersama emak. Beliau tidur dalam pangkuan saya.
Tubuhnya yang subur kurasakan ringan. Macam tiada beban.
Fisiknya yang saat muda kuat mengerjakan pekerjaan rumah tangga, terutama mencuci dan setrika kurasakan sangat lembut. Dan beliau tidur pulas.
Saat terbangun, saya tercenung. Rupanya bunga melati telah hadir menyapa fajar yang bergairah.
Isyarat apa ini? Saya anak yang paling lama menyusu badan sampai dapat adik baru ngebbet saja “ngenyot” bahkan oleh emak sampai diolesi balsem pun tetap ikhtiar ambil lap untuk dikesat, melihat almanak. Kalender. Batinku, emak mengingatkan ultahnya yang ke-73.
Beliau semasa hidup aktif “membacakan” doa bagi ibu-bapaknya yang juga nenek-kakekku. Begitupula almarhum ayah. Senantiasa diingat tanggal spesialnya, lalu dibacakan doa.
