Itulah situasi yang kita jumpai saat ini. Hari ini, sebagian media karena pilihannya selama ini, telah kehilangan sebagian kepercayaan publik. Informasi media tidak lagi (kurang) dipercaya –dan sebaliknya dicurigai menjadi bagian dari media setting untuk kepentingan “penyampaian pesan”.

Situasi ini membuat kita prihatin dan sekaligus juga cemas. Pesimisme membayangi pikiran dan tindakan kita.
Tetapi, karena kita ingin terus hidup dan tumbuh, tentu pesimisme harus dibuang jauh. Kita harus menaruh harapan bahwa perbaikan-perbaikan bisa dilakukan. Media masih bisa berbenah diri untuk mendapatkan kepercayaan mayoritas warga. Media masih bisa berkembang sekalipun perkembangannya tidaklah sebaik tahun-tahun terakhir abad ke-20.

Semoga media yang terlanjur tersalah jalan berbalik lagi ke pangkal. Awaknya yang terlanjur memakai kacamata kuda, bisa melepaskannya dengan keyakinan bahwa media pasti akan hidup jika mendapatkan kepercayaan publik.
Sejalan dengan itu, sudah saatnya juga pemerintah memperhatikan media. Lebih dari sekadar mengagungkan peran media sebagai pengawal demokrasi dan guru masyarakat, pemerintah dapat memperhatikan media seperti perhatian pada pilar demokrasi ke satu, ke dua dan ke tiga.

Selamat Hari Pers Nasional tahun 2019. Bangunlah pers Indonesia, jadilah pers yang dipercaya. (*)