Oleh: Khatijah
Aku melihat ibu-ibu separuh baya menggunakan daster bercorak bunga mawar berwarna ungu, badannya gemuk, rambutnya yang ikal mengembang diurai, wajahnya seperti bulan penuh, pipinya bulat bak pentol bakso. Tangannya memegang handphone, matanya terfokus ke burung pleci yang ada di kandang tak jauh tergantung dari atas kepalanya.
Dia tetanggaku yang sampai sekarang aku belum mengetahui siapa namanya karena aku hanya memanggilnya ibu. Kata Bang Long (abang sepupuku yang telah lama bertetangga dengan ibu tersebut) ibu itu tak bisa lagi membedakan mana manusia dan mana makhluk halus. Jadi aku memanggilnya ibu sixth sense, iya ibu indera ke enam.
Berbicara tentang indera ke enam pastinya berbicara tentang hantu, bukan kali ini saja aku mendengar manusia bisa merasakan, melihat, bahkan berbicara dengan makhluk astral. Jika aku bertanya kepada mereka darimana asalnya, mereka selalu menjawab keturunan dari orangtua. Dan jika ditanya lagi mereka senang atau tidak, mungkin sejauh ini aku memprediksikan 50% menyukai 50% tidak.
Sari (nama samaran) mengaku bisa merasakan makhluk halus tersebut, ia bilang memang dari orangtuanya dan katanya ia sudah membuang jauh-jauh benda tersebut meski terkadang terjadi kontra antara kenyataan dan keinginannya bagaimana tidak ia harus memaksakan dirinya untuk tak merasakannya sedangkan ia benar-benar merasakannya.
