Oleh: Ambaryani
Sore kemarin, sepulang kantor saya mampir ke rumah teman CPNS SMPN 10 Kubu yang ngontrak di Parit Bahar.
Rumah Bu Mufti dan Bu Nursiah.
Belum sampai depan rumah Bu Mufti, pandangan saya tersita pada aktivitas seorang remaja tanggung dan adiknya yang sedang mreteli buah. Posisi rumah mereka, bersebelahan dengan rumah Buk Mufti.
Buah itu, agak asing bagi saya. Cantik tampilannya. Itu yang membuat rasa ketertarikan saya semakin besar. Saya parkirkan motor di pinggir, lalu menghampiri 2 beradik itu.
“Buah apa ni Kak?”, tanya saya pada si Kakak yang sedang jongkok dan memasukkan buah-buah yang sudah dipretelinya ke dalam ember.
“Buah nipah Bu”, jawab anak gadis itu.
“Dapat di mane?” tanya saya lagi.
“Bapak yang ambek di laot. Ibuk mauk ke?”, kata gadis itu.
“Memang enak Kak dimakan?”
“Enak Buk, biase saye makan e. Ibuk mauk?”, dia bertanya lagi.
“Boleh…”, saya mengiyakan.
Kemudian dibelahnya buah itu pakai golok yang dari tadi dipakainya untuk memisahkan buah dari bunggkulnya. Agak susah dia membelahnya. Kulit buahnya keras. Tak lama kemudian, Ibu si gadis datang membawa kapak.
