*Catatan Syafaruddin DaEng Usman
Dalam beberapa pekan di pertengahan April tahun ini, saya dan istri, Isna, berkesempatan mengunjungi Benua Eropa di Eropa Barat.
Beberapa hari kami berada di Kota Madrid, Paris atau London. Dan sebelumnya di Belanda. Dari Limburg, bagian selatan Nederland, terus ke Amsterdam dan Brussels, ibukota Belgia, di sana tentu bisa melihat manneke-pis, patung anak kecil lagi pipis.
Di masa lalu di Negeri Belanda, orang tak melewatkan mengunjungi pabrik anggur dan jenever. Boleh cicip minuman keras itu dikit-dikit. Lama kelamaan laki-laki “pantat botol” tampak semakin gembira dan merah mukanya.
Dari sahabat kami Gerrie yang bermukim di Wassenaar, saya mendapat informasi tentang polder Zuiderzee, kehebatan teknologi Belanda membangun tanggul, mereklamasi pantai, mengatur peringkat air, sehingga walaupun Bandara Schiphol berada sekitar lima meter di bawah permukaan laut, namun tidak terendam dan berfungsi normal.
Kami naik kendaraan menuju Paris. Dalam waktu kurang lebih lima jam kami sampai. Indahnya sekitar lintasan terlihat di pinggir jalan pohon-pohon kayu yang menghijau. Ada juga batang pohon yang sudah meranggas. Daunnya subur, salju sudah berlalu. Musim semi mulai menyelimut bumi Eropa Barat.
