Tak putus-putusnya deretan menara tinggi dengan baling-balinya berputar ditiup angin guna pembangkitan tenaga listrik. Kata teman lain saya, Rudolph, di sini orang tidak melulu memakai minyak bumi atau batu bara untuk menghidupkan stasiun pembangkit listrik. Tapi juga angin, sinar matahari, dan sebagainya. Cara-cara baru telah dilaksanakan untuk mengurangi polusi udara dan meredam dampak buruk atas masyarakat dari perubahan iklim.
Tentu, bepergian dengan mobil ini sangat menyenangkan. Tidak ada pos-pos imigrasi di perbatasan dua negara. Tidak ada pemeriksaan paspor. Tak ada birokrasi mengesalkan. Semua dibikin mudah.

Kemacetan lalu lintas di jalan tol dari Belgia menuju Perancis tidak ada seperti di depan rumah kami di Jalan Imam Bonjol Pontianak dan serupa di Jakarta. Baru di pinggir kota Paris kendaraan mobil dilambatkan, karena lalu lintas mulai ramai.
Hari sudah sore, tentu di Pontianak sedang menjelang pagi, mobil kami ke daerah Trocadero, berhenti di sebuah hotel kecil, dekat Menata Eiffel. Setelah chek-in, saya dan istri berjalan mendekati Eiffel yang akan nyala lampu-lampu hiasannya dengan iluminasi indah di malam hari.
Beberapa waktu lamanya kami berbaur dengan kaum turis. Kulihat, kebanyakan mereka dari China dan India. Setelah makan pasta Italia spaghetti di restoran dekat hotel, kami pulang ke kamar untuk tidur.
