Sekitar Menara Eiffel pedagang-pedagang kaki lima menjajakan barang-barang suvenir kepada turis. Ada yang menggelar barang dagangannya di depan Eiffel, ada yang mangkal di pintu masuk. Saya menyapa pedagang berkulit hitam, masih muda. Dia menjual miniatur Eiffel dengan harga bervariasi. Beberapa saat kemudian saya baru tahu, rupanya di situ dilarang berdagang suvenir. Dan benar saja, dalam waktu sekejap tempat itu kosong dari pedagang kaki lima.
Saya menghabiskan dan menikmati waktu dengan satu kerja saja, yaitu mengamati keadaan ramai bergalau di sekitar, memperhatikan kelakuan kerumunan atau individu yang lalu lalang.
Saya lihat manusia dari berbagai bangsa dan berbagai warna kulit, dari yang bule hingga yang hitam pekat. Dari yang bermata biru hingga mata sipit. Ada yang berpakaian tebal menurut potongan fashion yang disukai. Ada yang berhenti sejenak membeli minuman Coke dan sepotong kue, kemudian berjalan terus entah ke mana.
Kulihat beberapa wanita muda menenteng kantong-kantong penuh dengan barang yang dibeli. Ini betul-betul negeri dan bangsa makmur yang tinggi pendapatan perkapitanya, pikirku. Tapi orang yang belum berkecukupan harus berjuang hidup ada juga saya lihat di dekat kami.
