Bagi Agus Muare, teknologi tidak boleh menjadi alasan hilangnya identitas budaya. Justru sebaliknya, teknologi harus menjadi kendaraan baru agar pantun tetap hidup. “Karakter dan kaidah pantun Melayu jangan sampai hilang. Teknologi boleh berubah, tetapi marwah pantun harus tetap dijaga,” ujarnya.
Pesan itu ia tutup dengan sebuah pantun yang sontak mendapat tepuk tangan para peserta.
Indah lembayung lebat berseri,
Janganlah layu kering di taman.
Jaga adat payung negeri,
Resam Melayu mengiring zaman.
Sementara itu, Kepala OJK Kalimantan Barat Rochma Hidayati mengingatkan bahwa tantangan masyarakat saat ini bukan hanya derasnya informasi digital, tetapi juga ancaman pinjaman online ilegal, judi online, hingga berbagai modus penipuan keuangan. Karena itu, literasi finansial perlu ditanamkan sejak dini. Menurutnya, pantun dapat menjadi media komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan bijak mengenai pentingnya menabung, mengelola keuangan, serta menghindari investasi ilegal.
Selama sehari penuh, para guru tidak hanya mempelajari anatomi pantun, tetapi juga berlatih memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyusun materi pembelajaran yang kreatif. Konsep workshop memang dirancang agar guru mampu mengintegrasikan pantun, teknologi, serta literasi digital dan finansial ke dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Di penghujung kegiatan, satu pesan terasa paling kuat. Budaya dan teknologi ternyata tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru bisa berjalan berdampingan, selama teknologi digunakan untuk merawat akar budaya, bukan menggantikannya. Dari Mempawah, para guru pulang bukan hanya membawa aplikasi pantunin AI di telepon genggamnya, tetapi juga membawa keyakinan baru: bahwa pantun masih memiliki masa depan, bahkan di era kecerdasan buatan.
