Opini

Dialektika Sultan Hamid dengan Wartawan: Cerdas! Tahu Sejarah akan Dibengkokkan

Dialektika Sultan Hamid dengan Wartawan: Cerdas! Tahu Sejarah akan Dibengkokkan
Sultan Hamid bersama sang istri--blasteran Belanda dan Kerajaan Sulawesi Selatan--Dina Didi Van Delden. Foto repro internet

Oleh: Nur Iskandar

Suatu hari di Gedung Graha Pena Jawa Pos-Surabaya–lantai 21–CEO briliant Dahlan Iskan berkata dengan semangat menyala-nyala, “Kalau mau tahu situasi kondisi suatu negeri baca saja korannya. Begitupula mau tahu maju tidaknya suatu daerah, baca saja koran lokalnya.”

Di dalam pertemuan para redaktur pelaksana tahun 2000, dua puluh tahun yang lalu itu saya tercenung. Dalam hati mengangguk setuju. Misalnya terbayang, ketika itu, kalau mau tahu wajah Indonesia saya bisa lihat dari koran utama Nusantara yakni Kompas. Untuk tahu wajah Pontianak saya merujuk koran Pontianak Post. Tentu koran saya juga, tempat saya bekerja saat itu, cucu Jawa Pos, Harian Equator.

Begitulah. Postulat Dahlan Iskan jadi kebiasaan yang positif untuk kenal lingkungan secara cepat. Maka setiap kali berkunjung ke daerah lain, atau negara lain, yang saya beli pertama-tama adalah korannya-majalahnya-bukunya. Dari sana tokoh dan peristiwa bercerita panjang lebar. Kita bia masuk sampai ke dalam kasak-kusuknya.