Tentu ke Tugu Khatulistiwa dan Istana Qadriyah.
Saat pulang, Rommy Fibri ada akal pelanduk yang smart. Cerdas. Ia izin menghadap rektor. Prof H Mahmud Akil, SH yang alumni UGM. Kagama. Keluarga besar Gajahmada.

Tak pelak kelima tamu saya dirangkul tiada dipukul. Disayang, bukannya proposal ditendang. Apalagi Pak Mahmud murah hati. Murah senyum. Juga ringan tangan merogoh saku sampai dalam.

Kelima tamu saya dibiayai pulang gretong. Gratis. Naik KM Lawit tanpa merogoh kocek aktivis pers kampus yang besar di idealisme namun kosong isi dompet.
Saya pun memetik manfaat besar dari Dikjur Matindas. Khatam bawa mobil.

Pinjaman Ir Zulfadhli dari KNPI. Mobil kodok yang sudah butut untuk operasional Panpel. Maka Kang Adang amat berkesan dalam kehidupan saya. Sampai kini dan masa depan.

*

1995 kami jumpa di Bandung. Inap di Isola. Nama awalnya IKIP Bandung. Kini UPI. Persis 50 tahun Indonesia Merdeka. Hut Emas.

Saya ikut Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut di Universitas Parahyangan. Namun curi waktu meliput pertemuan para tokoh Indonesia di Seskoad. Saya tahu ada Prof Mahmud Akil sebagai pesertanya. Juga Gubernur Letkol Pardjoko Suryokusumo.
Saya bersua Prof Mahmud di acara itu. Wawancara. Tentu dia bangga. Lalu minta jumpa malam hari di penginapannya Hotel Parahyangan.

Saya ditemani Syafarudin Usman dan Sri Nur Aeni datang menghadap. Tentu dijamu makan dan minum enak-enak.

“Silahkan pilih. Ayo makan. Kalian mahasiswa hebat yang membanggakan Untan.”
Kami kikuk. Hanya berani pilih nasgor. Juga juice jeruk. Rasanya sudah hebat dan mewah.

Sepulangnya kami disawerin uang. Masih mengkilap. Bau cetakan Perum Peruri. Percetakan Uang Republik Indonesia.