Banyak sekali pemberiannya. Kami bisa borong banyak buku di Cilosari Bandung dan buku loakan di Kwitang kawasan Senen, Jakarta.

Itu sekelumit jasa bersama Kang Adang yang sudah nyambi liputan untuk Jawa Pos. Belakangan saya juga bergabung ke JPNN (Jawa Pos News Network) lewat anak Jawa Pos yakni Pontianak Post dengan menerbitkan cucu koran bernama Harian Equator. Di sana saya berkarir sampai Redaktur Pelaksana termuda di Indonesia. Lingkup Jawa Pos hingga dapat beasiswa ke USA 2001 dan 2004.

*

Kenapa Kang Adang nyentrik di pikiran dan perasaan? Pertama kronologis di atas. Kedua, namanya Abdurrahman. Artinya Hamba Tuhan yang Penyayang.
Atas nama Tuhan Arrahman. Maha Kasih. Maha Sayang.
Kang Adang menjalankan doa atas namanya. Abdurrahman.
Saya suka nama itu. Sebab kakek saya juga Abdurrahman.
Abdurrahman punya enam anak. Nurdin. Hasan (ayahku). Yusuf. Azizah. Siti Sarah. Si bungsu alias ragil Siti Rahmah. Masing-masing pakai gelar Har (Haji Abdurrahman). Maka nama saya selengkapnya adalah Nur Iskandar Bin Hasan Bin Abdurrahman.

Abdurrahman inilah yang disapa putra-putrinya dengan Buya. Abuya. Oleh cucu-cucunya akrab disapa To’ Buya atau To’ Ya. Akronim yang disabet Abang kandungku HM Nur Hasan Har sebagai To’ Ya Jr.

Kepada Kang Adang saya bertanya, apakah ada sambung kait dengan keluarga di Sukabumi? Namanya juga Adang Durahman? Dia bilang tidak. Sebab banyak nama Adang Durahman seantero Jabar. Mungkin disebabkan Adang adalah panggilan sopan untuk lelaki (adik) dalam keluarga. Dihormati. Dicintai. Sapaan sayang.