Karolin adalah refresentasi Cornelis. Ia anak sulung yang mengikuti jejak politik ayahandanya. Apalagi Karolin juga adalah seorang dokter yang cantik, serta terpilih sebagai anggota DPR RI dua periode. Angka pemilihnya fantastis. Dia beroleh suara nomor dua terbesar di seluruh Indonesia. Kenyataan ini yang membuat figur lain bergidik. Siapa yang mau melawan kekalahan yang relatif “pasti” sesuai hitungan angka -angka politik maupun etnik? Apalagi kenyataan kontestasi pilkada seluruh Indonesia membuktikan signifikansi aliran etnik dalam mengkristalisasikan dukungan suara. Fak tor berikutnya adalah agama. Agama yang dianut warga Landak juga mayoritas Katolik, agama yang dianut calon tunggal.
Akan tetapi aturan “melawan bumbung kosong” harus dijalani
Karolin-Herculanus Heriadi. Apakah calon tunggal ini bakal mampu meraih suara 50 persen plus satu? Jika hal itu tercapai, maka calon tunggal ini praktis dikukuhkan sebagai Bupati Landak periode 2017-2022. Namun jika kurang dari 50 persen plus satu, maka akan dilakukan pemilihan dua tahun berikutnya. Dengan perkiraan akan ada kandidat lain yang muncul sebagai penantang.
