Oleh: Khairul Fuad
Tampaknya menjumpai kembali tahun politik, semarak pesta demokrasi Pilkada membuncah di Kalbar, juga seantero Indonesia untuk memilih pemimpin baru meski diikuti petahana (incumbent), akan segera dihelat. Segala kepentingan berbasis apapun yang terselip, akan tersaji di atas meja pesta dan sangat mudah terpantik jika terusik. Suka atau tidak suka, hajat Pilkada memang harus dihelat dengan segala konsekuensi di belakang sebab mandat rakyat mengatakan demikian.
Pada dasarnya, di negeri ini sudah dihadapkan oleh berbagai macam kepentingan (vested interest) yang berasal dari keragaman identitas yang menjadi entitas Indonesia. Keragaman sosial, malah keragaman hayati memang menjadi penanda Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulo Rote, terjajar perbedaan yang dipicu oleh keragaman latar. Tidak sekadar antarpulau, tetapi intrapulau terdapat keragaman sosial. Bahkan, satu suku terdapat perbedaan jika ditelaah mendalam.
Keragaman itu nyatanya tidak menjadi persoalan sampai sekarang, Indonesia tetap Indonesia dengan segala konsekuensi yang ada. Merah Putih tetap Merah Putih, tidak berganti warna, yang tetap membahana di langit biru Indonesia. Oleh karena itu, hajatan Pilkada yang akrab disebut tahun politik dalam ranah lokal sebenarnya lintasan atau stasiun yang tidak harus risau dilewati karena tidak akan mengganggu keindonesiaan yang tetap utuh dengan keragaman.
