Oleh: Masri Sareb Putra
Singkawang berjuluk Kota Amoi benar adanya. Di kota yang dikelilingi bukit dan laut itu, 42% bahkan lebih, warganya etnis Tionghoa. Pada setiap pojok jalan kota, bahkan di berbagai tikungan dan kaki bukit. Dapat disaksikan berdiri kokoh tegak menghadap tubir langit kuil-kuil warna merah darah yang dalam bahasa Hakka setempat disebut tepekong.
Pada tahun tahun 1772, etnis ini berkembang di daerah Monterado, wilayah Kabupaten Berngkayang, saat ini. Para imigran tersebut kebanyakan berkerja di pertambangan-pertambangan emas. Mereka membuat perkampungan khusus yang kemudian dikenal sebagai “kampung cina” atau pecinan.
Barangkali seperti wabah Corona pada saat ini. Pada suatu hari, di perkampungan Cina terjadi malabencana berupa wabah penyakit menyebar. Ketika itu, belum ada tabib apalagi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit. Lalu warga Tionghoa berobat ke tabib atau dukun yang menggunakan cara tradisional dan cara gaib.
