Momen Pilkada putaran 2 ini agak agak mirip dg Pilpres 2014 lalu. Sudah 2 tahun lebih masih banyak hubungan perkawanan yg belum pulih. Tapi kita ndak usah lebay juga, Amrik pasca Trump jadi presiden juga gitu. Banyak yg unfrien kawan di group gegara kelahi soal Trump vs clinton. Kampiun demokrasi konon negara itu.

Tadi pas makan malam sempat berbincang dg bang Hazrul anggota DPR yg luar biasa. Lintas zaman. Sejak tahun 1982 jadi anggota DPRD Kota medan. Nggak putus karirnya sampai sekarang. 1 kali DPRD kota, 3 kali provinsi dan 3 kali DPRRI. Nggak pernah pindah partai juga, tetap PPP. “Pilkada DKI itu nggak penting. Yg penting pilkada sumut” kata beliau. Pada putaran 2, PPP mendukung Ahok – Djarot.

Saya lihat politisi senior biasa saja menyikapi kekalahan. Kalah di satu tempat, tak lengah malah siap siap kompetisi di tempat lain. Kalah dalam politik itu bukan berarti mati karir politik. Politisi macam bang Hazrul mirip ceu Popong (Golkar) anggota DPRRI tertua saat ini. Matang oleh zaman.

Teruji dalam kondisi naik turun politik. Dalam politik, Sejarah Indonesia ini mencatat ada yg menang gilang gemilang setelah kalah.

SBY kalah dari hamzah haz saat pemilihan wapres, malah jadi presiden 2 periode. Jusuf Kala kalah jadi capres 2009, menang lagi jadi wapres 2014 bareng Jokowi. Setya novanto, tak jadi ketua DPR malah jadi Ketum golkar dan bisa balik jadi Ketua DPR. Ahok kalah Pilgub Bangka Belitung malah terpilih DPR dari Golkar dan menang jadi wagub DKI dari Gerindra bareng Jokowi. Anies dicopot jadi menteri malah menang jadi Gub DKI 2017.