Apa yang menyenangkan dari tempat pengap karena asap dan panas karena minim kipas demi secangkir kopi? Bukannya bisa dibungkus lalu minum di rumah, di bawah ac atau kipas angin dan suasana nyaman sembari selonjoran?
Pernah mendapat ajakan ngopi pada saat emosi? Kenapa harus diajak ngopi? Kenapa tidak aktivitas menyenangkan yang lain seperti berbelanja atau memancing? Jawabannya sederhana; minum kopi adalah aktivitas sederhana, sela-selanya yang luar biasa. Cerita yang hadir setelah seuruputan kopi pertama menjadi yang cukup mendebarkan, sepertinya. Klarifikasi, jika si peminum kopi ini sedang berada dalam konflik atau hanya sekedar bualan buat yang lain tertawa.
Ngopi, dapat dikatakan sebuah budaya. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dan diwariskan dari generasi ke generasi merupakan sebuah budaya, bukan? Saat ini, yang melakukan aktivitas ngopi bukan hanya orang tua. Warung kopi juga tampak ramai oleh remaja akhir atau bahkan anak-anak usia sekolah. Kopi, entah itu saset, diracik oleh barista, atau di saring oleh Koh Asiang di depan warung kopinya, masing-masing memiliki rasa tersendiri. Tetapi sekali lagi, cerita-cerita dalam aktivitas ngopi inilah yang luar biasa.
Sebagai budaya, ngopi bisa berada dalam posisi positif. Memajukan perekonomian, industri kopi, mempertemukan orang-orang yang lama tidak jumpa bahkan bisa saja mendamaikan perseteruan. Tetapi perlu diingat, beberapa hal bisa berimbang mengenai dampak, dalam artian bisa memiliki dampak positif dan negatif, begitu pula budaya ngopi yang memiliki nilai negatif jika dijadikan wadah untuk menyebarkan hoaks, misalnya.
