Terlebih jika segerombolan pria dewasa yang sudah berumur, biasanya mereka mengangkat lagi apa yang didapat pada ruang obrolan grup Whatsapp. Aktivitas ini jelas berbahaya! Berbahaya jika mereka atau siapa saja bahkan pemuda sekalipun yang tidak dapat menengahi atau memberi tahu jika ada informasi yang keliru dari pesan-pesan tersebut. Belum lagi jika dalam forum grup ngopi tersebut pecah dalam dua kubu pilihan. Potensi konflik jika tidak bisa bersikap dewasa dapat lahir dengan mudah. Padahal aktivitas awalnya hanya sesederhana duduk, pesan kopi, meminta password wifi (jika ada), menghidupkan rokok (jika merokok), dan ngobrol.
Duduk di warung kopi yang ramai dalam beberapa jam ternyata dapat menangkap beberapa informasi, baik dari meja yang sama atau berdekatan. Seperti warung-warung kopi di Pontianak dengan meja yang tidak memiliki jarak jauh, maka dapat dengan mudah mendengar sedikit demi sedikit informasi dari meja sebelah. Menjadi pendengar diam-diam memang terkesan tidak sopan, tapi keadaanlah yang membuat pengunjung mau tidak mau turut mendapatkaan pengalaman seperti itu. Antara ngopi dan penyebaran informasi, keduanya bertaut akrab.
Reza, seorang mahasiswa berstatus semester akhir yang hampir tiap paginya dihabiskan untuk memenuhi meja di salah satu warung kopi ternama di kota khatulistiwa ini. Menyandang status sebagai mahasiswa tak berarti membatasi pergaulannya hanya di ruang lingkup kampus saja. Beberapa kali ia berkesempatan ngopi dalam rangka menemani orang penting yang biasanya dari luar kota, akunya itu merupakan rekan kerja orang tuanya.
