Ngopi juga sangat akrab dengan aktivitas sehari-hari, dengan bukti; warung kopi yang jarang sepi. Terlebih aktivitas ini biasa dilakukan pagi-pagi oleh siapa saja tanpa pandang latar belakang. Tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini. Sudah memenuhi definisi kearifan lokal, bukan?

Tidak hanya warung kopi pinggir jalan, coffee shop dengan cabang dimana-mana, rumah atau bahkan pos ronda juga menyuguhkan kopi sebagai teman tambahan. Apa yang terjadi setelah menyeruput kopi itu juga sama, menghasilkan pembahasan yang bisa kemana-mana, tergantung yang membuka percakapan. Pada saat pemilu belum berlangsung, topiknya tak jauh-jauh dari presiden, partai dan berita-berita di media. Apakah yang dibahas seluruhnya kebenaran? Belum tentu.

Dalam suasana ngopi, cerita dan topik apa saja bisa diangkat, dibahas bahkan dibakar. Berbahaya jika diteruskan, disampaikan lagi kepada yang lain, ditambah-tambahi dan membentuk rantai informasi bohong. Pada zaman teknologi canggih seperti ini, penyebaran informasi yang paling laris sepertinya bukan dari gawai, tetapi saat suasana duduk bersama dan ada kopi serta kudapan sebagai pelengkap. Dapat ditarik garis kesimpulan bahwasanya ngopi dapat menjadi media penyebaran informasi, baik informasi yang benar maupun hoaks.