Tak kalah seru bumbu tawa selama bersilaturahmi ini, Walikota yang duduk didampingi Sekjen Ika, Firdaus Zarin bercerita soal dinamika pembangunan Kota Pontianak. Dimulai dengan polemik di sejumlah masjid sebagai pusat ibadah dan muamalah umat Islam.
“Ada masjid yang pengurusnya berbeda pendapat sangat keras. Memilih ketua masjid sampai voting,” ungkap Firdaus Zarin. “Saya tak akan datang kalau diundang dimana masjid tersebut para pengurusnya bertikai,” sambung Walikota. Dia mau pengurus masjid rukun dan mengedepankan musyawarah sebagaimana ajaran Islam yang rahmatan lil’alamiin.
“Selain voting, ada juga pengurus masjid yang saling jegal dengan cara membuat tata tertib, bahwa yang bisa menjadi ketua harus yang fasih ketika menjadi imam. Maka kandidat yang tidak bisa menjadi imam akan tersingkir,” lanjut Firdaus yang disambut gelak tawa hadirin karena model partai politik telah diserap sampai masuk ke struktur pengurus masjid. Dan selama ini biasanya seluruh masjid menempatkan musyawarah maupun mufakat serta berujung aklamasi.
Bicara soal masjid di Kota Pontianak, Walikota telah menggalakkan rehabilitasi dari bangunan tua ke masjid baru yang lebih mantap dan luas. Begitupula soal kiblat. “Ini kesempatan memperbaiki arah kiblat karena ada pergeseran,” ungkap Sutarmidji seraya menambahkan bahwa dari 300-an masjid di Kota Pontianak, lebih dari sepertiga telah direhabilitasi di masa kepemimpinannya. Tidak terhitung panjang dan luas jalan, rehabilitasi pasar, puskesmas, rumah sakit, sekolah, sampai penerapan Teknologi Informasi di mana Bandung-Jawa Barat pun studi banding ke Kota Pontianak.
