teraju.id, Pontianak – Kelompok radikalisme tidak pernah diam sekalipun dalam situasi dunia dilanda pandemi covid-19. Dalam melaksanakan aksi teror mereka melibatkan perempaun. Oleh karena itu agar dapat melawan virus radikalisme, perlu penguatan peran perempuan.
Demikian antara lain kesimpulan yang dapat diambil dari dialog online perempuan FKPT yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (23/06/2020). Kegiatan yang melibatkan 32 FPKT seluruh Indonesia, difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menghadirkan narasumber Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME., Ketua KPT Manado, Prof. Dr. Ani M. Hasan, dan Sekjen AMAN, Ruby Kholifah.Menurut data BNPT aktifitas terorisme di kalangan perempuan pun tercatat mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 kurang lebih 13 orang perempuan terlibat dalam aksi teror, meningkat tahun berikutnya menjadi 15 orang pada tahun 2019.
Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Mayor Jenderal TNI Hendri Paruhuman Lubis, meyakini bahwa aksi terorisme adalah fenomena di hilir. Adapun hulunya adalah kebencian, intoleransi, dan radikalisme. Lalu, bagaimana ideologi kematian ini bisa merasuki perempuan dan keluarga Indonesia?
