in ,

Melawan Virus Radikalisme, Perlu Penguatan bagi Perempuan

IMG 20200624 WA0000

teraju.id, Pontianak – Kelompok radikalisme tidak pernah diam sekalipun dalam situasi dunia dilanda pandemi covid-19. Dalam melaksanakan aksi teror mereka melibatkan perempaun. Oleh karena itu agar dapat melawan virus radikalisme, perlu penguatan peran perempuan.

Demikian antara lain kesimpulan yang dapat diambil dari dialog online perempuan FKPT yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (23/06/2020). Kegiatan yang melibatkan 32 FPKT seluruh Indonesia, difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menghadirkan narasumber Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME., Ketua KPT Manado, Prof. Dr. Ani M. Hasan, dan Sekjen AMAN, Ruby Kholifah.Menurut data BNPT aktifitas terorisme di kalangan perempuan pun tercatat mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 kurang lebih 13 orang perempuan terlibat dalam aksi teror, meningkat tahun berikutnya menjadi 15 orang pada tahun 2019.

Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Mayor Jenderal TNI Hendri Paruhuman Lubis, meyakini bahwa aksi terorisme adalah fenomena di hilir. Adapun hulunya adalah kebencian, intoleransi, dan radikalisme. Lalu, bagaimana ideologi kematian ini bisa merasuki perempuan dan keluarga Indonesia?

“Apakah perempuan-perempuan yang terasuki itu adalah pelaku atau korban? Kenapa perempuan, para ibu, mau terlibat dalam gerakan terorisme? Kenapa tren keterlibatan perempuan cenderung mengalami peningkatan? Apa kira-kira yang mereka lakukan selama wabah Covid-19 ini? Dan yang paling penting, bagaimana kita mencegahnya?,” tanya Lubis.

Baca Juga:  FKPT Kalbar Ikuti Rakernas VIII 2021 di Labuan Bajo

Lubis berharap, pertanyaan itu dapat menjadi bahan diskusi perempuan FKPT. Penguatan perempuan perlu dilakukan karena beberapa pelaku adalah perempuan.

“Salah satu yang ditangkap petugas di Sidotopo bulan lalu, adalah seorang perempuan. Kasus ini menambah daftar keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal terorisme. Mulai dari keterlibatan pasif. Putri Munawaroh yang turut menyembunyikan gembong teroris Noor Din M. Top di Mojosongo, sampai dengan keterlibatan aktif Dian Yulia Novi yang siap melakukan “amaliyah” bom bunuh diri dengan target Istana Negara,” ungkap Lubis.

Kejadian ini menandai tranformasi peran perempuan yang sebelumnya “supporter” menjadi “role player” dalam gerakan radikal terorisme, dalam bahasa mereka dari “jihad shogir” ke “jihad kabir”.
Pemahaman yang kurang lebih sama juga mempengaruhi seorang polisi wanita di Maluku Utara. Bripda Nesti Ode Sami, hingga melanggar sumpahnya danmeninggalkan tugas serta tanggung jawabnya demi mempersiapkan diri menjadi “pengantin” untuk aksi bom bunuh diri.

Yang lebih memprihatinkan lagi, katanya, manakala perempuan terlibat jauh dalam pengaruh radikalisme dan aksi terorisme, celakanya sampai tega mengorbankan anak-anaknya, bahkan yang di bawah umur, seperti peristiwa bom di Surabaya dan Sibolga.

Baca Juga:  Kades Lemukutan Apresiasi Giat Dosen dan Mahasiswa Prodi DKB Arsitektur Polnep

“Semua tantangan itu harus memacu kita semua yang hadir disini, agar meningkatkan kerjasama, membangun jaringan di semua lini, baik offline maupun online, sehingga di tengah segala keterbatasan, aktifitas kita dapat menyentuh segala lapisan masyarakat,” ingatnya.

Ruby Kholifah juga memaparkan peran perempuan dalam beberapa aksi terorisme. Menurutnya, sejumlah aksi terorisme memperlihatkan ada perempuan.

Kabid Perempuan dan Anak FKPT Kalbar, Dra. Isriyah, yang mengikuti webinar ini mengatakan, webinor ini sangat bagus sekali membuka wawasan yang luas dan perlutindak lanjut dengan memberikan penguatan bagi perempuan dan anak.

Katanya, diperlukan sinergisitas dalam peran perempuan melawan Covid 19, dan Radikalisme. Peran perempuan strategis di era New Normal, Stay at Home dengan menjaga keharmonisan rumah tangga, dibangun Partnership yang harmonis antar anggota keluarga, tercipta kesejukan, dan pemahaman tentang protokol kesehatan yang harus dilaksanakan bersama. Juga tercipta kredibel Family, salingmengingatkan akan perlunya keterbukaan pemikiran, budaya empati, atau sikap gotong royong.

“Yang terkecil, contoh dalam peran di rumah saling membantu dan berbagi tugas dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Yang lebih besar lagi bergotong royong dalam menghadapi pandemi covid 19. Membantu tetangga atau lainnya yang terpapar covid, dll.,” katanya. (rilis fkpt kalbar)

Written by teraju.id

IMG 20200623 WA0016

Dara Dayak yang Kuliah di Luar Negeri

WhatsApp Image 2020 06 24 at 15.24.47

Walidya dan Biografi Perempuan Dayak yang Kuliah di Luar Negeri