“Salah satu yang ditangkap petugas di Sidotopo bulan lalu, adalah seorang perempuan. Kasus ini menambah daftar keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal terorisme. Mulai dari keterlibatan pasif. Putri Munawaroh yang turut menyembunyikan gembong teroris Noor Din M. Top di Mojosongo, sampai dengan keterlibatan aktif Dian Yulia Novi yang siap melakukan “amaliyah” bom bunuh diri dengan target Istana Negara,” ungkap Lubis.
Kejadian ini menandai tranformasi peran perempuan yang sebelumnya “supporter” menjadi “role player” dalam gerakan radikal terorisme, dalam bahasa mereka dari “jihad shogir” ke “jihad kabir”.
Pemahaman yang kurang lebih sama juga mempengaruhi seorang polisi wanita di Maluku Utara. Bripda Nesti Ode Sami, hingga melanggar sumpahnya danmeninggalkan tugas serta tanggung jawabnya demi mempersiapkan diri menjadi “pengantin” untuk aksi bom bunuh diri.
Yang lebih memprihatinkan lagi, katanya, manakala perempuan terlibat jauh dalam pengaruh radikalisme dan aksi terorisme, celakanya sampai tega mengorbankan anak-anaknya, bahkan yang di bawah umur, seperti peristiwa bom di Surabaya dan Sibolga.
“Semua tantangan itu harus memacu kita semua yang hadir disini, agar meningkatkan kerjasama, membangun jaringan di semua lini, baik offline maupun online, sehingga di tengah segala keterbatasan, aktifitas kita dapat menyentuh segala lapisan masyarakat,” ingatnya.
Ruby Kholifah juga memaparkan peran perempuan dalam beberapa aksi terorisme. Menurutnya, sejumlah aksi terorisme memperlihatkan ada perempuan.
Kabid Perempuan dan Anak FKPT Kalbar, Dra. Isriyah, yang mengikuti webinar ini mengatakan, webinor ini sangat bagus sekali membuka wawasan yang luas dan perlutindak lanjut dengan memberikan penguatan bagi perempuan dan anak.
