Melalui jaringan Forum Diskusi Aktivis di WhatsApp saya mendapat foto tiga orang yang melapor ke Polsek Timur. Mereka melaporkan pemukulan yang diterimanya saat melintasi Tanjungraya. Ketiga orang ini berusia muda. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Dan saya berjanji akan memeriksa kebenarannya di Polsek Timur. Hanya saja saya baru bisa merapat ke Polsek Timur pada pukul 01.25 WIB. Di mana hari telah berganti dari Jumat ke Sabtu dan telah banyak peristiwa lain menyusul dan menegangkan.
Sebagai jurnalis yang biasa meliput konflik, saya risau kenapa jumlah aparat sangat sedikit? Potensi massa tumpah dan marah amat sangat besar seperti malam Sabtu ini. Apalagi tayangan TV menyoal demo di Jakarta sangat mudah menyulut emosi. Banyak pemirsa tidak menangkap masalah “Ahok” dengan lengkap sehingga bisa bersikap adil dan bijaksana.
Saya kontak petinggi Polda. Saya hendak menyarankan tambahan anggota di lapangan. Namun belum sempat anggota bertambah di Tanjungraya sudah lebih dahulu sekelompok massa dengan berjalan kaki menyeberangi tol Kapuas. Mereka masuk sampai Gajahmada. Mereka bershalawat. Di saat inilah terjadi pembakaran ban bekas dan “pembatas jagung” alias traffict corn di mulut tol. Asap menghitam ke arah lampu penerang jalan. Ketegangan bertambah tambah di antara teriakan Allahu Akbar dan sholawat. Di saat inilah Walikota H Sutarmidji SH, M.Hum tiba ke lokasi. Ia ditemani M Akip.
Sementara tokoh FPI Sahrani turut mendampingi. “Kau turut mengamankan situasi Sahrani,” pinta Sutarmidji dan diterima dengan anggukan pertanda setuju. Massa kemudian surut setelah Sutarmidji menjumpai massa bahkan sempat dimintai foto bersama oleh warga.
