Tiba di halaman Munzalan, Kyai Lukmanul Hakim tiba-tiba muncul. Uluk salam sesama “anak moeda”. Saling berbagi cerita. Mulai agenda subuh, ttd akta ikrar wakaf, hingga dukungan UAS untuk pantun hingga BangKambing. Catatan bermula dari Karimata hingga legacy kepada Djagat Kerdja yang dipimpin anak muda gaul Rizal Hamka.

Kyai Lukman yang Gerakan Infak Berasnya (GIB) telah menyebar ke-23 provinsi, 3000 pondok pesantren, 250.000 santri menyatakan gemar bereksperimen. Setelah GIB adalah GesMat. Gerakan Sedekah Jumat. Bermula dari Bogor. Hasilnya kesohor. Di mana mesjid kembali kepada fungsi asali yakni agen solusi.
Dikisahkan seorang Mbah di Beringharjo, Yogya. Ia menangis saat dapat GesMat Rp 20.000. “Kenapa menangis tersedu sedu? Rupanya Beliau kerja keras, banting tulang, sejak jam 03.00 subuh sampai petang membawa hasil bersih hanya Rp 10.000 tak sempat shalat dan zikir. Ini dengan berjamaah di mesjid, ya dapat makan gratis, minum gratis, juga dapat duit.” Begitu Kyai Lukman.
Kisah lain seorang nenek jalan sempoyongan. Kakinya luka. Digigit tikus. Dapat dibayangkan…jilbabnya bolong bolong.
Si nenek ikut GesMat. Ia dapat bantuan kerudung bagus. Dapat perobatan dan perabotan.
Suatu ketika menjelang pesta demokrasi, si nenek ini sanggup berkata, “Bawa pulang saja bantuan kerudung, karena saya sudah ada dari mesjid tanpa harus tukar suara.”
Nikmat merdeka itu berkat jual beli kepada Allah. Dan janji Allah itu pasti adanya.
