Pada tahun 2012 akhir, Gurunda H.M. Nur Hasan meminta Gurunda Ustaz Luqmanulhakim untuk memimpin pengelolaan Masjid itu. Maka, mulai tahun 2013, Ustaz Luqmanulhakim telah berperan sebagai top eksekutif atau CEO di Masjid kecil di gang sempit yang berkapasitas 200an jamaah itu.
Pada tahun 2018, nilai aset di lingkungan Masjid Kapal Munzalan dihitung oleh Kantor Akuntan Publik. Saat itu, nilai aset yang dibukukan sekitar Rp 15 milyar.
Sementara pada tahun 2020, nilai aset Masjid Kapal Munzalan diperkirakan sekitar Rp 90 milyar. Angka 90 milyar itu sekedar perkiraan saja. Riilnya bisa lebih bisa kurang.
Cara menghitungnya adalah dengan menggunakan cara Bossman Mardigu saat menganalisis kinerja sebuah BUMN di fanpage beliau. Bosman Mardigu pernah mengatakan bahwa BUMN yang sehat itu mestinya bisa menghasilkan omzet atau pemasukan minimal setara dengan nilai asetnya. Kalau nilai aset BUM itu Rp 1 trilyun, maka omset pertahunnya minimal Rp 1 T. Begitu kata Bossman Mardigu.
Nah di masjid Kapal Munzalan, nilai asetnya pada tahun 2020 belum dihitung. Tapi dari seluruh lembaga dakwah yang berkegiatan di sekitar masjid Kapal Munzalan tiap bulannya menghasilkan omzet rata-rata sekitar Rp 7,5 milyar per bulan. Angka itu kalau dikalikan 12 bulan, ketemu di angka Rp 90 milyar.
Nah, dengan menggunakan metode Bosman Mardigu itu, kita asumsikan saja bahwa nilai aset Masjid Kapal Munzalan setara dengan nilai pemasukan dalam setahun, yaitu Rp 90 milyar.
Sekali lagi data ini bukan data riil ya. Hanya data yang bersifat kalkulatif saja. Nilai sesungguhnya bisa lebih, tapi kalau kurang kayaknya nggaklah. 😊
Nah sekarang kita bisa punya gambaran matermatis tentang kinerja Gurunda Ustaz Luqmanulhakim sebagai seorang CEO.
