Mereka tidak mendengar mereka memperkenalkan nama dan siapa mereka berlima, atau ketika perkenalan saya yang tidak ada di tempat. Mungkin 1/4 pembahasan yang telah mereka bahas, saya baru bisa duduk dan mendengarkan diskusi. Peran wanita, pembahasan yang sangat menarik karena memang saya mendapat “pr” dari Pak Yus membuat tulisan untuk jurnal tentang “Peran wanita dalam masyarakat Sambas” yang belum kunjung selesai.
Pembahasan demi pembahasan telah berlalu, cerita yang tidak asing di telinga kembali terngiang, tentang lunturnya ilmu seorang laki-laki jika melihat wanita tanpa pakaian menari-nari. Kisah tersebut mengingatkan saya pada kisah gugurnya orang pada peristiwa 1997 di Parit Setia, Jawai.
“Jadi, filosofinya. Kenapa perempuan tidak banyak dilibatkan dalam hal politik. Takut luntur ilmunya,” ujar ibu berjilbab pink. Seketika ruangan Club pecah dengan tawa dan pikiran masing-masing. Entah sejalan atau tidak yang pastinya kalimat tersebut sangat menggelitik hati.
Pontianak, 26 September 2018
