Teman sekamarku ini datang ke RS saat anosmia Hari ke-5. Lalu, Hari ke-7 sudah bisa mencium aroma kembali, pelan-pelan. Dia mengaku mental turun saat hari pertama tahu positif Covid-19 hingga hari ketiga. Suaminya hanya tes rapid tapi tak bersedia tes Swab karena tak ada gejala. Hasil tes rapid suami tak reaktif, tetapi tatap harus isolasi mandiri.
Teman sekamarku pertama dapat obat sebanyak 13 bungkus. Dia minum 13 butir sekaligus. Langsung muntah mual dan rasanya badan malah tak karuan. “Ini minum obat bukannya enakan malah rasa mau mati,” katanya.
Itulah kenapa sebelum minum obat selalu kuperiksa dulu kandungan, kegunaan, dan efek sampingnya. Apakah cocok dengan kondisi tubuhku. Tiap orang kondisinya berbeda, efek obat juga bisa berbeda.
Dia konsultasikan soal efek obat pada dokter. Kini minumnya berjarak. Dan, setelah 10 Hari isolasi di RS, kondisinya sekarang sudah membaik. Sudah tak sesak nafas, tetapi masih batuk. Dia bilang, “Setelah mengerasain sendiri sesak nafas kayak mau mati, aku baru sadar kalau Covid-19 itu nyata. Gak mau lagi gini.”
(Dikutip dari laman FB Leyla Almuhsin)
