Alhamdulilah, membuahkan hasil, adek-adek yang awalnya belum bisa, melangkah pun sulit akhirnya bisa tampil”.

Sejak kecil, Hilda memang tertarik di dunia tari. Kembang Tanjung, adalah nama kelompok Tari Hadrah dari Kelurahan Tanjung, yang mengenalkan dunia tersebut padanya. Saat SMP, Hilda mencoba tarian modern, ia bersama teman-temanya sering kali tampil dan ikut lomba, hal tersebut berlangsung hingga dirinya SMA. Seperti memang garis tangannya, dunia ini pun membawanya sebagai mahasiswa Program Studi Seni Tari dan Musik-FKIP Universitas Tanjungpura melalui PMDK.
Bergelut di dunia seni tari menjadikan Hilda semakin mengenal berbagai tarian. Ia pun dapat menarikan tarian Jaipong, Gambyong, Pendet, Madure, Bugis, Cine, Serampang 12 dan Kontemporer.
“Tarian tersebut dasar-dasarnya sih, tapi basic-nya memang Melayu dan Dayak,” ujar anak kedua pasangan Jurhani dan Irham ini.
Kecintaan Hilda pada tarian dibuktikannya dengan menulis tugas akhir mengenai “Revitalisasi Hadrah di Kampung Tanjung”. Berbagai usaha untuk mendapatkan lirik, gerakan, musik Hadrah yang mulai terlupa.
“Sayang kalau Redat atau Hadrah itu hilang dari kampung, banyak pelajaran terutama tentang Islam bahkan sejarah Mempawah dari lirik Hadrah itu, juga melestarikan Tar sebagai alat musiknya,” ujarnya.
