Oleh: Yusriadi
Sepekan ini saya memiliki tambahan kegiatan baru. Melihat ikan cupang. Tepatnya, melihat perkembangan anak dan induk ikan cupang. Saya mengontrol air dan pakan. Memasukkan daun pisang, kutu air, cairan kuning telur, dan lain-lain.
Kesibukan ini muncul gegara anak saya, Bang Yanda. Dia meminta dibelikan ikan cupang, setelah kami tidak setuju dia minta belikan anak kucing. Ikan cupang pilihan ke-dua dia, dan kami setuju.
Kami membelinya di tempat penjualan ikan cupang di Sungai Raya. Sepasang. Saya minta sepasang dengan harapan bisa dikembangkan. Penjual yang memilih mana betina dan mana jantan. Betina kata dia, betinalah ikannya. Jantan kata dia, jantanlah… Saya sama sekali buta soal jenis cupang. Tidak pernah menggemarinya.
Abang suka cupang karena dia berteman dengan anak tetangga. Anak tetangga memiliki ikan ini, Mereka beli.
Di parit di sekitar gang, mereka hanya bisa mendapatkan ikan slomang dan kapi. Ada anak gabus atau anak ikan sepat. Kadang kala mereka mendapatkan dan membawa pulang berudu; anak kodok. Jenis terakhir ini membuat ribut Bundanya, dan membuat saya tergelak-gelak.
Ikan cupang yang baru dibeli dimasukkan ke dalam akuarium kecil yang sudah diisi air hujan dan rumput air. Setiap hari entah berapa kali, Bang Yanda berulang alik melihatnya –tepatnya, mengacaukan ikan. Dia mengajak kawan-kawannya menangkap ikan memindahkan ke wadah kecil, memberi makan sesukanya. Bonyoklah ikan itu. Kalau sudah puas, ikan itu dikembalikan ke dalam akuarium.
Tiga empat hari kemudian gelembung di sudut akuarium semakin banyak. Terutama kalau pagi, jumlah gelembungnya bertambah.
“Yah, ikannya betelo’,” kata Abang ribut.
“Lihat, Yah,”
