Program Undergraduate aku selesikan di UK dan postgraduate di US dengan bea siswa perguruan tinggi masing-masing. Mulai saat itu aku hidup mandiri tanpa minta kiriman dari ibu lagi.
Dapat pekerjaan sesuai dengan yang kuiginkan di Australia. Lima tahun kemudian menikah dengan Jane, gadis Melbourne. Dan, kini tinggal Clayton bersama taga orang anak, Vicky, Merry dan Glenn.
Rumah kami berada di No 13 Tuhan St. Jalan itu cukup pendek. Hanya sekitar lima belas rumah. Tidak jauh dari Kampus utama universitas Monash.
Inilah sekilas masa laluku. Tetapi, pagi ini, sekitar pukul 09:13, aku kembali berada di Pontianak. Tepatnya di makam ibu.
Maaf, aku sungguh tidak tahu keadaan ayah, entah masih hidup entah sudah meninggal. Sejak kecil aku hanya berdua dengan ibu. Aku tidak sempat bertanya kepada ibu tentang ayah. Aku tidak juga dekat dengan ibu.
Ibu bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit daerah. Di rumah ia usaha warung sembako. Hasilnya lumayan, cukup untuk menyekolahkanku hingga SMA.
Buah dari belajar yang sangat keras adalah bea siswa untuk melajutkan ke perguruan tinggi hingga selesai program doktor.
Begitu terima kabar dari notaris Nugroho, malam kemarin, aku langsung ‘brosing’ mencari tiket Melbourne-Jakarta-Pontianak. Syukurlah koridor penerbangan Australia-Malaysia dan Indonesia-Malaysia sudah dibuka. Tentu, dengan persyaratan kesehatan yang ketat di era pandemi ini.
Tadi malam, notaris Nugroho mengajakku ke makam ibu, pagi ini, untuk mendengarkan rekaman ‘wasiat’ ibu.
“John, maafkan Ibu.
Ibu merasa waktu tidak menginjinkan kita bertemu. Kondisi Ibu sudah mengkhawatirkan.
